Senin, Agustus 27, 2007
Lala Karnaval 17-an
Jumat, Agustus 24, 2007
MahaPuspa Most Beautiful Pictures (2)
... Kapan kita bisa kesana lagi? ...
Keterangan foto (searah jarum jam):
- Di tepi Ranu Kumbolo, waktu Tri, Joko dan Kun sedang ambil air wudhu buat Subuhan (meski sudah kesiangan ...). Ini yang moto saya, pada tanggal 18 Agustus 1996 atau satu hari sesudah insiden longsor di lereng Mahameru.
- Menjelang Hutan Jimbaran dari Ranu Kumbolo. Yang moto juga saya, pada tanggal 31 Desember 1996.
- Foto paling bawah saya dan Mujib di bawah Lembah Bentengan. Yang ambil gambar kalau nggak Agus BI ya Tri (karena pada waktu itu kami cuma berempat), tanggalnya 30 Desember 1995.
Selasa, Agustus 21, 2007
MahaPuspa Most Beautiful Pictures (1)
Jadi, sudah siapkah kita untuk menjadi pecinta alam sejati?
- Foto kiri bawah diambil Risa keponakannya Tri menampilkan Gunung Penanggungan dilihat dari Pos Kokopan Welirang pada tanggal 17 Februari 1997, pada siang hari dalam perjalanan turun. Yang ikut dalam pendakian: Agus BI, Herie "Teler", Risa, Retno, Tri, Wijaya dan saya sendiri.
- Foto paling atas adalah Pos Pondokan Welirang yang diliputi kabut di siang hari pada saat recovery menjelang pendakian ke puncak Arjuna. Foto ini saya yang jepret pada hari Jumat 25 oktober 1996 pada saat pendakian wisuda yang pertama, dengan peserta yang cukup banyak. Nantikan file selengkapnya tentang MahaPuspa edisi Wisuda Welirang-Arjuna di blog ini.
Sabtu, Agustus 18, 2007
Jejak-jejak MAHAPUSPA
... terharu ...
... tersungkur ...
... di bawah Kebesaran Sang Esa!
" ... Tuhan, jadikan setiap tetes keringatku, setiap langkah kaki lemahku, setiap tarikan nafasku, adalah dzikirku pada-Mu ... "
Keterangan:
- Anggota tim MahaPuspa edisi "Tahun Baru Semeru": Agus BI, Mujib, Tri dan saya sendiri.
- Foto kiri dan kanan adalah momen peringatan 17 Agustus Tahun 1996 juga di Mahameru. Foto kiri yang ambil saya, kenangan bersama Redis teman SMP yang kebetulan bertemu di puncak. Foto kanan adalah detik-detik dikibarkannya Bendera Merah Putih di puncak tertinggi di Pulau Jawa, diambil oleh Tri. Yang jadi pengerek bendera sebelah kanan adalah teman saya SMA, Bagus "Pukon", yang juga kebetulan bertemu di puncak. Pendakian 17 Agustus ini juga sangat dramatis: sempat terjadi longsor di lereng Mahameru pada saat pendakian menuju puncak. Kejadiannya dini hari, saat sekeliling masih gelap-gulita. Salah seorang anggota tim kami, Rahmad terkena longsoran sampai kepalanya bocor karena tidak sempat menghindar. Terus kenalan kami dari Malang, Mas Mamat malah patah kaki dan harus ditandu ke Ranu Pani (pos pertama ke Semeru). Untung tidak ada nyawa yang melayang. Alhasil, upacara pun berlangsung dalam keadaan penuh duka. Bagaimanapun mengingat buasnya alam Semeru, kejadian seperti itu tidak meminta korban jiwa adalah sebuah karunia sendiri bagi kami semua. Allah sungguh Maha Pengasih ...
- Anggota tim MahaPuspa edisi "17 Agustus Semeru": Kun, Tri, Joko, Rahmad dan saya sendiri.
Best Family Pictures (2)

ZINEDINE - NISWANA
They're the greatest things I've ever had in my life ... O, God ... please bless them ... Give the best for them ... here and next, this time and forever ...
" ... we had joy, we had fun ... we had season in the sun ... but the stars we could reach, were just star fish of the beach ... "
Kamis, Agustus 16, 2007
Best Family Pictures (1)
Kamis, Agustus 09, 2007
Berkaca pada Diponegoro (Renungan 17 Agustusan)
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Demikian Presiden RI pertama Soekarno sering mengingatkan. Benar, berkat jerih-payah para pahlawan dan tentu saja juga berkat rahmat Allah – sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alenia III – kita dapat menikmati alam kemerdekaan yang bulan ini mencapai tahun ke-62.
Tetapi mengenang jasa-jasa pahlawan adalah pekerjaan mudah. Bagaimana dengan meneladani perjuangan mereka? Ini lain soal. Lebih-lebih di masa sekarang, pada saat negeri ini butuh pemimpin yang benar-benar dapat menjadi teladan dan bukan sekadar “pemimpin” yang kebetulan sedang memangku suatu jabatan belaka. Memang tepat kalau ada yang menyebut bahwa kita sedang mengalami “krisis keteladanan”. Walhasil, semakin panjang saja daftar krisis yang harus kita derita!
Nah, pada kesempatan kali ini penulis mengetengahkan salah seorang putra terbaik bangsa yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk berjuang meraih kemerdekaan. Beliau adalah Pangeran Diponegoro.
Kedua, dari sisi psikologis yaitu sifat-sifat beliau yang luhur yang patut dijadikan acuan bagi siapa saja, khususnya bagi para pejabat yang berkat jasa pahlawan – termasuk Diponegoro – mereka sekarang bisa ongkang-ongkang di kursi kekuasaan.
Latar Belakang Java War
Diponegoro mengajak rakyat berperang dengan semboyan “Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi tekan pati” (sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati) melawan serdadu Belanda pimpinan Jendral de Kock adalah untuk Jihad fi Sabilillah (berjuang di jalan Allah) demi kehidupan yang lebih baik. Faktor Jihad-lah yang menjadi motivasi terkuat beliau. Jadi sama sekali bukan demi pemuasan obsesi pribadi, kepentingan keluarga, golongan apalagi partai politik tertentu. Cita-cita beliau adalah mendirikan Balad (negara) Islam yang adil bagi seluruh rakyat berdasarkan Al-Qur’an (Djamhari: 2003, hal. 233).
Moedjanto (dari http:// kompas.com/ kompas-cetak/ 0405/ 17/ opini/ 990509.htm) juga menyebutkan sebagai suatu gerakan menuntut keadilan. Akumulasi ketidakadilan yang dipicu dari berbagai praktek penindasan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat, mendorong rakyat menunggu-nunggu datangnya pemimpim yang mempunyai tradisi pemerintahan dan keprajuritan serta yang terkenal dekat dengan rakyat, yaitu Pangeran Diponegoro.
Sayangnya, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (Kartodirdjo, dkk: 1975) yang menjadi referensi buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah terlalu menitikberatkan pada konflik internal dan perebutan tahta Kraton Yogyakarta serta faktor diserobotnya tanah makam leluhur beliau di Tegal Rejo oleh Belanda sebagai penyebab perang. Demikian pula dalam Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (Ricklefs: 2005). Faktor jihad fi sabilillah, entah kenapa sering tidak dimunculkan. Alergi dengan kata “Jihad”? Wallahu’alam.
Kepribadian Diponegoro
Berikut sifat-sifat Diponegoro yang menjadikan nama beliau harum dan disegani kawan maupun lawannya. Perlu ditiru siapa saja khususnya pemimpin zaman sekarang.
- Egaliter. Meskipun Diponegoro berkedudukan tinggi tetapi beliau dikenal dapat bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat tidak peduli bangsawan maupun rakyat jelata. Terbukti begitu perang meletus, rakyat pun membela tanpa diminta.
- Sederhana. Sebagai seorang pangeran Kraton Yogya, Diponegoro bisa saja hidup bermewah-mewah tetapi berkat pengetahuan agama yang dalam beliau memilih hidup zuhud. Bahkan beliau sering memakai pakaian yang sama sederhananya dengan yang dipakai rakyat.
- Cerdas. Diponegoro tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga sangat piawai meracik strategi sehingga membuat Belanda yang berkekuatan jauh lebih besar kesulitan memadamkan perjuangannya.
- Ksatria. Beliau sering dengan berani memimpin sendiri operasi-operasi militer, tidak hanya duduk-duduk saja di tenda komando menunggu hasil perang. Disebutkan juga sifat ksatria beliau lainnya dalam Babad Diponegoro bahwa beliau pernah berkesempatan menusukkan keris pada si musuh besar Jendral de Kock dalam perundingan untuk mengakhiri perang pada tanggal 28 Maret 1830 di Magelang, tetapi hal itu tidak beliau lakukan.
- Mencitai rakyat. Dalam perundingan di Magelang tersebut, beliau mengatakan bahwa apabila ada yang harus dihukum atau dibunuh karena perang yang terjadi maka dialah orangnya, rakyat Jawa tidak bersalah dan hanya mengikutinya saja. Hal itu dilakukan karena beliau mencintai rakyatnya, melebihi diri beliau sendiri.
- Menepati janji. Beliau dikenal selalu menepati janji, bahkan kepada pihak musuh sekalipun.
Jadi, apabila pada zaman ini masih ada pemimpin dengan tipikal seperti itu maka kita wajib mendukungnya 100 %. Tetapi pemimpin yang sekarang banyak beredar malah kebalikannya: sudah tidak merakyat, bergaya hidup mewah, culas dan tega mengorbankan kepentingan orang banyak demi nafsu pribadi, golongan, atau partainya, terlebih selalu mengingkari janji-janji yang dia buat sendiri sebelum berkuasa (baca: ketika kampanye).Ingat, kita pun saat ini sedang dalam “masa perang”. Memerangi KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), kemiskinan, kebodohan, ekonomi yang amburadul, birokrasi yang carut-marut, biaya kesehatan yang mahal, sistem pendidikan yang membingungkan, tingkat kriminalitas yang tinggi, maraknya peredaran narkoba, kemerosotan moral, hutang-hutang luar negeri dan masih sangat banyak “perang” yang harus kita hadapi. Pendek kata: kita butuh pimpinan yang mumpuni, ya seperti Diponegoro itu! Agar rakyat negeri ini secepatnya mencapai cita-cita kemerdekaan yaitu kesejahteraan bangsa
...
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali Tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
...*
*Ket.: petikan sajak berjudul “Diponegoro” karya Chairil Anwar/tahun 1943
(Artikel ini dimuat di mingguan lokal Ponorogo Pos No. 310 Tahun VI, 09 - 15 Agustus 2007)
Tambahan: Untuk Mbak Niek, thank's atas koreksi ejaannya.
Selasa, Agustus 07, 2007
Zidney: His First Day School
Ini dia hasil jeprat-jepretnya. Waktu dia siap-siap mau berangkat sekolah di depan rumah, dengan baju seragam baru yang super keren. Kemudian foto satunya si Zid di antara teman-temannya sedang upacara bendera hari Senin dalam rangka pembukaan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Dia di barisan terdepan, eggak pakai topi karena belum jadi.
Beberapa temannya masih ada saja yang nangis atau rewel minta ditunggu orang tuanya. Tapi si Zid berani lho! Malah langsung akrab dengan teman-teman sekelasnya. Oya, nama kelasnya: Kelas 1 Ustman bin Affan. Bismillah .. sukses ya, Zid!
Sabtu, Agustus 04, 2007
Zidney: His Last Kindergarten's Days (2)


Hari itu ijazah TK-nya diserahkan, juga buku-buku dan seluruh hasil karyanya selama menempuh bangku TK, buat kenang-kenangan. Besok-besok kalau dia ke sini lagi sudah sebagai "alumnus". Yaaa, sekali-sekali harus nyambangi TK, lagian Dik Lala 'kan masih 1 tahun lagi di sini. Beberapa adegan lucu yang sempat terekam: acara salam-salaman si Zid dan teman-temannya dengan adik-adik kelas, termasuk salaman dengan Dik Lala. Terus satu foto lagi waktu di si Zid pencilaan di halaman sekolah. Woow ... dia dan temannya pada pamer gede-gedean gigi! Perpisahan TK yang ada hanya kegembiraan semata. Coba perpisahan SMA atau kuliah, pasti pada banjir air mata ...
Zidney: His Last Kindergarten's Days (1)

Detik-detik terakhir si Zid di TK Aisyiyah Banyudono Ponorogo. Hari Selasa 26 Juni 2007, tepat satu hari sebelum ultahnya ke-7, dilangsungkan acara perpisahan TK yang asyik punya. Muter-muter Si Zidni (memakai baju kuning) dan Dik Lala (baju jilbab merah muda) tenggelam di antara keroyokan teman-temannya. Foto satunya Zid-La sedang action di kereta sama Else (teman sekelasnya yang juga mbeling) .


