Sabtu, Januari 31, 2015

Memoar Gunung Wilis

"Memoar Gunung Wilis"
Rot/Madiun, 25 Januari 2015




Mengunjungimu, Wilis, dalam musim yang tak menentu
Angin dan kabut seperti mau bertaut, mendesah dan berderu
Kususuri hutan-hutanmu, tebing-tebingmu, dan jurang-jurangmu
Pesona yang tak terperi
Keindahan yang suci


Kaki melangkah, hati tertunduk, takjub:
“Maka, karunia mana yang akan aku dustakan?”*
Meski ketika di sana, di puncak Bukit Batu Tulis, kusambut jingga mentari pagi dengan batin sedikit teriris

Karena betapa ingin kurengkuh indahmu lebih lama
Namun perpisahan juga pada akhirnya
Karena esok aku harus kembali ke kota
Belantara yang sesungguhnya
*interpretasi dari ayat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS: Ar-Rahman/Yang Maha Pemurah)



Mengenang Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman
Catatan Kecil Pendakian Gunung Wilis 24 - 25 Januari 2015

Mengesankan, akhirnya berkesempatan mendaki Gunung Wilis bersama sahabat-sahabat terbaik: Anggi Sasmito, Muhammad Rullianto dan Emil pada Sabtu - Ahad, 24 - 25 Januari 2015. Gunung Wilis, atau lebih tepat disebut Pegunungan Wilis (Jawa Timur), disamping menyimpan sejuta pesona keindahan beserta segenap mitos dan legenda yang melingkupinya, lebih dari itu juga mengandung muatan sejarah yang teramat luhur: yaitu sebagai rute perang gerilya Panglima Besar Soedirman beserta pasukannya dalam mempertahankan kemerdekaan terhadap agresi militer Belanda sekitar tahun 1948 – 1949. Terasa lebih istimewa, karena pendakian yang kami lakukan bertepatan dengan hari lahir sang Jenderal yang jatuh pada tanggal 24 Januari (beliau lahir tanggal 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah). Terbayang betapa berat perjuangan beliau saat itu. Menyusuri hutan Gunung Wilis yang masih teramat lebat, dengan ditandu akibat penyakit TBC yang beliau idap sehingga merampas sebelah paru-parunya, sambil terus memberikan perlawanan kepada tentara Belanda. Kini, rute gerilya beliau masih lestari dan menjadi saksi bisu perjuangan beliau, membentang di beberapa kabupaten mulai Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Nganjuk dan sekitarnya. Sekali lagi, terkenang perjuanganmu, wahai Sang Jenderal Besar. Pantang menyerah, setia pada kebenaran, ikhlas berkorban, jujur dan tidak silau oleh jabatan. Adakah lagi orang seperti dirimu di masa yang karut-marut seperti sekarang ini? Sungguh betapa Bumi Pertiwi merindukan pemimpin sepertimu. Hormat kami padamu!

Keterangan (dari kanan atas searah jarum jam):
  1. Tanda panah menunjukkan rute gerilya Jenderal Soedirman.
  2. Pulosari, dusun terakhir sebelum naik ke Gunung Wilis (apabila berangkat dari Madiun). Tak terbayangkan terpencilnya, akses jalan masuk sangat terjal, jangankan toko bahkan warung kecil pun tak ada, karena seluruh penduduk yang hanya 25 jiwa bermatapencaharian sebagai pekebun.
  3. Berjalan di tengah badai, Puncak Pertama (oleh penduduk setempat dinamakan Puncak Trogati) tampak di kejauhan.
  4. Rute Gunung Wilis (meski tidak tinggi, "hanya" sekitar 2.563 mdpl) memang terkenal rumit dan berliku, sangat berbeda dengan gunung lain yang biasa menjadi destinasi pendakian seperti Semeru atau Lawu. Kami harus memberi tanda di beberapa titik agar tidak tersesat.
  5. (insert) Menembus lebatnya hutan.
  6. Sunrise di puncak Bukit Batu Tulis, menjelang Pos Watu Garuda.
  7. Puncak Pertama (Trogati) atau kadang-kadang juga disebut Puncak Kare, mengikuti nama kecamatan yang menaunginya.

Tidak ada komentar: