Selasa, Agustus 25, 2015

Taman Hidup - Dewi Rengganis

"Taman Hidup – Dewi Rengganis"
(Dari sebuah tempat di Gunung Argopuro/2015)
Dalam hening haribaanmu, Taman Hidup,
Di antara kecipak air sungai yang berhulu di bening mata airmu
Di antara gemerisik lembut dahan pepohonan di rimbun hutanmu
Seakan engkau berbisik dan menasehati
Bahwa perjalanan hidup berkelindan antara takdir dan mimpi
Bergulir dalam pusaran nasib yang terkadang membuat lelah
Sebelum pada akhirnya kita menyerah*
Jalur-jalurmu, Taman Hidup,
Mananjak dan bercabang
Seperti mengajarkan nilai-nilai kehidupan
Tak ada angkuh, tak ada riuh
Engkau adalah guru dalam diam

Dan dalam hening puncakmu, Rengganis,
Kuharap Tuhan sejanak menghentikan waktu
Sekedar menyingkap tabir hari-hari yang murung
Biarlah dunia dan semua masalahnya berlalu
Seperti terbangnya burung-burung

Rengganis, untukmu kusampaikan salam,
Bersama senja menjelang temaram
Bersama derai Edelweiss yang berguguran
Di antara bebatuan yang dilupakan zaman
Dalam kelam musim kemarau yang muram
Dalam detik-detik perpisahan yang menghanyutkan

Aku mencintaimu, Taman Hidup – Rengganis,
Seperti aku mencintai kebenaran**
Dan ketika pada tikungan terakhir kutatap wajahmu sekali lagi, Rengganis,
Hatiku pun gerimis
*diadaptasi dari “Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar/1949
**diadaptasi dari “Mandalawangi – Pangrango” karya Soe Hok Gie/1966
Dari kiri searah jarum jam: rute rumit Taman Hidup - Sabana Lonceng, Puncak Rengganis, Pesona Danau Taman Hidup di pagi hari (kanan bawah)

Sabtu, Januari 31, 2015

Memoar Gunung Wilis

"Memoar Gunung Wilis"
Rot/Madiun, 25 Januari 2015




Mengunjungimu, Wilis, dalam musim yang tak menentu
Angin dan kabut seperti mau bertaut, mendesah dan berderu
Kususuri hutan-hutanmu, tebing-tebingmu, dan jurang-jurangmu
Pesona yang tak terperi
Keindahan yang suci


Kaki melangkah, hati tertunduk, takjub:
“Maka, karunia mana yang akan aku dustakan?”*
Meski ketika di sana, di puncak Bukit Batu Tulis, kusambut jingga mentari pagi dengan batin sedikit teriris

Karena betapa ingin kurengkuh indahmu lebih lama
Namun perpisahan juga pada akhirnya
Karena esok aku harus kembali ke kota
Belantara yang sesungguhnya
*interpretasi dari ayat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS: Ar-Rahman/Yang Maha Pemurah)

Rabu, Maret 26, 2014

Suzuki Sky Drive: Motor Badak!

Saya ingin berbagi pengalaman berkenaan dengan tunggangan kesayangan saya: Suzuki Sky Drive 125 cc. Motor ini saya tebus dari dealer di Ponorogo pada awal bulan Juli 2009. Pertimbangan saya memilihnya sederhana: karena saya suka Suzuki dari dulu. Tak peduli sehebat apa kata orang tentang merk lain! Kesukaan saya kepada Suzuki menurun dari (Alhm.) Bapak saya. Pada tahun 1980-an dulu, motor kami adalah Suzuki RC 100. Pada saat saya kuliah di pertengahan 1990-an, saya pakai Suzuki Crystal langsiran dari kakak saya. Kemudian saat mau lulus di tahun 1997 saya dibelikan Suzuki RC 100 Bravo dan saya pakai terus sampai saya berkeluarga dan beranak-pinak dan pindah dari kota kelahiran di Surabaya ke Ponorogo. Pada tahun 2009 itulah, riwayat Suzuki Bravo saya yang bersejarah itu (terpaksa) berakhir demi menebus Suzuki Sky Drive. Pertama melihat Suzuki Sky Drive saya memang langsung kepincut. Bodi besar, velg lumayan lebar, warna hitam mengilat dan lampu depan gagah kayak mata burung hantu. Harganya pun cukup bersaing dibandingkan dengan merk kompetitor.

Sabtu, September 14, 2013

Trilogi Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo (1)
"Sajak Sepi Ranu Kumbolo"
Rot/Kumbolo, Sept. 2011

Ranu Kumbolo, kau masih seperti kumpulan sajak sepi yang terus mengalir
di tengah-tengah keterasingan belantara yang teramat letih dan tua

Ranu Kumbolo, cemara-cemaramu yang berlumut itu seakan menggugurkan derai-derai masa lalu
yang tercerabut dari lubuk hati gundah-gulana

Padamu aku ingin mencoba terus bercerita
sekedar melupakan sejenak dunia yang makin sombong

Tapi kau, Ranu Kumbolo, tetap diam bergeming
semakin tak acuh
dan seperti yang sudah-sudah, semuanya kau biarkan berlalu
dan tenggelam di kedalaman arusmu yang gelap...


Ranu Kumbolo (2)
"Elegi Ranu Kumbolo"
Rot/Kumbolo, Agt. 2013

Kabut masih menyelimuti danaumu pada pagi itu, Kumbolo

kemilau embun di pucuk-pucuk dedaunanmu masih belum berlalu
ketika kutuliskan bait-bait yang tak pernah usai tentangmu 
sungguh kau adalah penggalan surga yang diberkati 
untuk negeri yang sudah tak lagi menghargai kejujuran ini

Kumbolo, entah sampai kapan airmu akan bening?

sementara kehidupan di luar sana semakin keruh dan ricuh
aku seperti mengembara di negeri asing*
di antara dinding-dinding angkuh uang dan kekuasaan
di antara kasih sayang dan keadilan yang diabaikan
di antara kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan Tuhan
kepadamulah sejenak aku berpaling

Hingga kudapati kabut menyingsing pada siang itu, Kumbolo

aku berharap negeri ini kelak menjadi lebih jernih
seperti halnya siangmu yang cemerlang
agar tak ada lagi hati yang perih
agar tak ada lagi sejarah-sejarah kelam yang terulang
tapi masih adakah waktu? karena temaram senja sebentar lagi menjelang
siang yang gemilang pun akan berlalu hilang

Dan ketika kabut kembali menyelimuti danaumu pada petang itu, Kumbolo

di dalam tenda-tendamu yang membeku
di bawah gunung-gunungmu yang selalu sendu
di sekeliling hutan-hutanmu yang… ah, sayang sudah tak serimbun dulu
biarlah anganku luruh dalam dekapan sepi di sisa-sisa harimu
biarlah kupendam mimpi untuk bertemu lagi denganmu

Kumbolo,

sungguh kau adalah penggalan surga yang diberkati 
untuk negeri yang sudah tak lagi menghargai kejujuran ini

*"mengembara di negeri asing" diadaptasi dari "Doa" karangan Chairil Anwar/1943


Ranu Kumbolo (3)
"Rindu Ranu Kumbolo"
Rot/Magetan, Okt. 2011 - Okt.2013

Dan ketika sejenak merindukanmu, Ranu Kumbolo,
adalah kerinduan pada serumpun ilalang yang tumbuh rimbun di tepian airmu
dan pada semerbak edelweis yang menyeruak di sela-sela bebatuanmu
dan pada burung-burung yang terbang bebas mengikuti arus anginmu
dan pada awan-awan yang berarak riang di luas langit birumu
dan pada gugusan hutan-hutan di sepanjang lekuk gunung-gunungmu

Betapa damai di haribaanmu...
melepas segala beban dan terbang sampai ke awang-awang
menyambut terbitnya cahaya dari ufuk yang mulai benderang
seakan menemukan kembali sebagian cinta yang entah ke mana hilang

Dan ketika sejenak merindukanmu, Ranu Kumbolo,
adalah kerinduan pada jawaban takdir dari mimpi-mimpiku
dalam malam-malam yang terbuang

Ranu Kumbolo 13 - 15 Agustus 2013: 
(dari kiri ke kanan) Sudarto, Untung Priono, Zinedine Zidney bin Rotmianto, Bapak'e Zidney

Senin, Oktober 24, 2011

Sajak-sajak Alam


"MAHAMERU 1995 - 1996 - 2011"
by: Rot/Semeru, Sept 2011

Kembali menyapamu, Mahameru...
setelah bertahun-tahun berlalu dalam penantian yang merindu-dendam


Di sisimu waktu seakan berhenti berdetak, dan hari berhenti bergulir
Kau tetap saja berdiri angkuh, sesekali mengumbar amuk,
runtuhkan nyali siapapun yang ada di sekelilingmu

Kuresapi setiap detikku bersamamu

Kini, salam rindu telah kusampaikan, sekalian selamat tinggal...

Entah kapan lagi bisa bertemu...


Semeru

Idul Fitri di Semeru 2011
Pendakian ke Semeru selalu menyenangkan bagi saya. Meski terakhir sudah sangat lama (Desember 1996), saya selalu berharap akan kembali ke sana. Dan, Alhamdulillah... pada hari ke-2 bulan Syawal tahun 1432 ini atau bertepatan dengan tanggal 1 - 4 September 2011 saya dan sohib terbaik, Agus BI diberi kesempatan untuk menyapa Semeru lagi dari dekat... Subhanallah...



Jumat, Januari 07, 2011

New Year with New Hope From Merbabu





"Thank you God, I'm (still) young..."

Mencapai Puncak Gunung Merbabu (3224 mdpl) pada hari pertama di tahun 2011 bersama dua sahabat terbaik (Bruri dan Ipung) adalah karunia luar biasa dariNya. Ending yang sempurna untuk melepas tahun 2010, dan a very good start untuk memulai tahun 2011. Syukur yang tak terhingga padaMu, Ya Allah... Hanya itu yang ingin saya ungkapkan di sini...

Selasa, Agustus 25, 2009

Lawu 1994 - 2009





SEGENGGAM DOA DARI PUNCAK HARGO DUMILAH (3265 m dpl)
Minggu, 17 Agustus 2009
by: Rotmi


"Terima kasih, Tuhan... Hanya karena karunia-Mu kami dapat menginjakkan kaki di tempat ini lagi setelah 15 tahun berlalu. Sesungguhnya gunung-gemunung dan seluruh alam semesta tunduk pada keteraturan takdir-Mu. Maka, apalah artinya kami yang lemah ini di bawah kemahabesaran-Mu?"

"Dan pada hari yang penuh makna ini, hari dimana negeri kami Indonesia Raya Engkau ridhoi untuk merdeka sejak 64 tahun lalu, kami rangkaikan sekedar-kedarnya pengharap pada-Mu: agar negeri ini kelak benar-benar merdeka dan merdeka yang sebenar-benarnya. Sekarang belum, ya Tuhan... kami belum merdeka. Kami masih dijajah oleh kemiskinan, keterbelakangan juga kejumudan yang boleh jadi semua itu adalah muara dari tabiat para oknum yang Engkau amanati kepemimpinan tapi mereka khianati dengan perbuatan tengik macam korupsi kolusi dan nepotisme. Kami juga masih dijajah oleh kepentingan-kepentingan asing yang berkalikong dengan mereka - para oknum pengkhianat itu - merenggut dan memperkosa alam kekayaan kami, yang sejatinya adalah hak anak-cucu kami. Pun kami masih dijajah oleh tangan-tangan laknat terorisme yang entah dari mana asalnya dan dengan lancang mengatasnamakan-Mu dalam menebarkan tindakannya. Ampunilah kami ya Tuhan... Ampunilah kami... Dan mohon, kelak benar-benar merdekakanlah kami dengan sebenar-benarnya kemerdekaan... Kabulkanlah, Wahai Sang Kuasa..."

Foto-foto:
1. Detik-detik pengibaran Sang Merah Putih di Telaga Kuning, Gunung Lawu.
2. Barisan peserta upacara.
3. Tim Fakultas Teknik UMP (dari kiri) Agus Dian, Ade "Bung Tomo", Rochani, Bruri dan saya.
4. Ekspedisi Lawu 15 tahun yang lalu (dari kiri) Mujib, Tri, saya dan Agus BI.

File terkait: Upacara 17 Agustus di Puncak Semeru tahun 1996.

Sabtu, Mei 30, 2009

"Trofi Ini Saya Dedikasikan Untuk Muslim Sedunia"

Ya, demikianlah kalimat pertama yang diucapkan Yaya Toure kepada sejumlah media di Italia dan Spanyol setelah sukses mengantar FC Barcelona - klub yang dibelanya sejak Agustus 2007 - merengkuh lambang supremasi kejuaraan antar klub paling bergengsi di benua biru, trofi Liga Champion Eropa musim 2008 - 2009. Seperti diberitakan kemarin, pemain kelahiran Pantai Gading 13 Mei 1983 itu menjadi salah satu aktor keberhasilan FC Barcelona menjadi juara setelah membantai Manchester United dengan skor 2 - 0 pada pertandingan final Rabu (27/5/2009) di Roma Italia.
Tak perlu meragukan kehebatan pemain bernomor punggung 24 itu dalam mengawal lini tengah FC Barcelona, yang musim ini menorehkan prestasi terhebat sepanjang sejarah klub yang sudah berdiri sejak tahun 1899 itu, yaitu meraih treble winner (Liga Primera Spanyol, Piala Raja dan Liga Champions Eropa).
Namun tekadnya untuk tetap menjadi seorang Muslim yang baik ditengah-tengah super ketatnya persaingan sebagai pemain bola profesional dan gaya hidup yang serba-bebas di Eropa adalah nilai lebih tersendiri pada diri seorang Yaya Toure. Dengan filosofi bahwa semua yang dicapai hanyalah anugerah dari Sang Kuasa maka ia mendedikasikan trofi Liga Champion itu untuk saudaranya sesama Muslim di seluruh dunia. Gracias, Yaya! Kami turut bangga padamu.
(Sumber: Harian Republika Jumat 29/05/2009)

File terkait:
1. Frederic Kanoute dan kisah sebuah masjid di Sevilla.

Rabu, Mei 20, 2009

UU BHP: Untuk Kebangkitan Pendidikan Nasional?

Kita mahfum, betapa pendidikan adalah causa prima untuk menuju kebangkitan, baik bagi individu, masyarakat, maupun lingkup yang lebih luas: negara. Dan, pendidikan yang berkualitas akan berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Bahkan Tuhan telah "menuliskan" dalam Lauhul Mahfudz-Nya bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional di Republik ini dilakukan lebih dulu dari pada Hari Kebangkitan Nasional. Maknanya gamblang: kita disuruh-Nya pintar duluan kalau mau bangkit (baca: maju). Tak ada tawar-menawar, tak ada politik dagang sapi seperti kelakuan oknum-oknum politikus untuk berbagi kekuasaan pasca pemilu. Dalam UUD 1945 pasal 31 (amandemen) pun dinyatakan bahwa pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara, demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebenarnya pemerintah melalui Depdiknas telah berada di jalur yang benar dalam upaya memajukan pendidikan nasional dengan merumuskan konsep tiga pilar pembangunan pendidikan. Pertama, pendidikan yang merata dan dapat diakses oleh seluruh anak bangsa. Kedua, pendidikan yang bermutu, berdaya saing tinggi dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ketiga, pendidikan yang dikelola secara good governance. Dari segi konseptual, tiga pilar tersebut memang merupakan persoalan mendasar pendidikan di negeri ini (1). Tapi dalam implementasinya, konsep yang baik itu seringkali tidak sesuai dengan harapan akibat regulasi bikinan pemerintah sendiri yang kontraproduktif. Salah satunya adalah UU BHP (Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan).

UU BHP Mencederai Hak Asasi Rakyat?
UU yang disahkan DPR tanggal 17 Desember 2008 itu memang sarat kontroversi. UU BHP dianggap meliberalisasi dan mengkapitalisasi sektor pendidikan, karena pemerintah meminta (memaksa?) lembaga pendidikan untuk mandiri (baca: mencari uang sendiri) demi membiayai ongkos operasionalnya dengan cara membebankannya kepada masyarakat. Dengan kata lain, UU BHP menyiratkan pemerintah lepas tangan terhadap kewajiban menanggung biaya pendidikan, yang sejatinya adalah amanat UUD 1945. Tak pelak, keberadaan UU tersebut membuat rakyat - terutama lapisan bawah - meradang dan memunculkan demo penolakan besar-besaran. Mencuat pula wacana untuk me-judical review UU tersebut ke Mahkamah Konstitusi.

Menurut pakar pendidikan Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc.,Ed. mem-BHP-kan sektor pendidikan beserta segala implikasinya (terutama privatisasi dan komersialisasi), serta segala konsekuensi dan dampaknya (terutama biaya dan kualitas), diperkirakan akan lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya bagi masyarakat. Kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan - menurut Beliau - sejak dari kabinet pertama sampai sekarang dianggap tidak pernah mempunyai kesinambungan yang jelas mengenai visi dan misi kependidikan nasional ke masa depan. Perhatian hampir semua kebijakan pendidikan terbatas hanya pada situasi saat itu alias bersifat temporer dan pragmatis (2). Karena itu, di mata para praktisi pendidikan di lapangan terutama guru di akar rumput, kondisi tersebut membingungkan dan berdampak sangat buruk bagi kemajuan pendidikan di Indonesia secara keseluruhan.

Walhasil, kemunculan UU BHP yang diharapkan pemerintah dapat memperbaiki kualitas pendidikan nasional dikhawatirkan malah membuat krisis baru yang makin parah. Pemerintah bukan saja dianggap secara terang-terangan hendak mengabaikan cita-cita Pembukaan UUD 1945 dan UUD 1945 pasal 31 (amandemen), tetapi juga dituduh menghalangi hak-hak dasar warganya untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas demi meningkatkan harkat dan martabat diri. Jika benar demikian adanya, bisa-bisa keterpurukan di segala bidang masih akan terus kita rasakan. Indeks kualitas pendidikan Indonesia di mata dunia tidak akan kunjung mentas dari urutan buncit. Kebangkitan Nasional yang dicita-citakan sejak seabad silam pun akan semakin jauh panggang dari api.

Nah, sekarang bertanyalah pada rumput yang bergoyang: berapa biaya riil yang harus dikeluarkan seorang anak bangsa untuk sekedar mengenyam pendidikan - yang seharusnya sudah menjadi haknya - khususnya di perguruan tinggi? Percuma bertanya pada pemerintah. Mereka masih sibuk kongkalikong untuk pilpres bulan Juli mendatang. UU BHP untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional katanya? Jangan bercanda!!!

By: Rotmianto
(Sebuah refleksi kecil di Hari Kebangkitan Nasional. Rabu, 20/05/2009 waktu subuh)

Referensi:
1. Jaringan Mahasiswa Indonesia (JMI).
2. Indonesia On Time dot com.


File terkait:
1. Beberapa potret ketimpangan sosial di Indonesia.