SALAM DAMAI KEPADA SELURUH SEMESTA Rotmianto-Rotmianto

Selasa, September 08, 2009

Reuni SMAN 18 Surabaya Angkatan '90

Courtesy from Situs Resmi Reuni SMAN 18 Surabaya Angkatan '90


Saat itu lagi rame-ramenya jejaring sosial atau istilah bulenya social network yang namanya FACEBOOK lagi nge-booming... dan banyak orang tertarik untuk ikutan bikin akun tersebut. Banyak yang coba-coba mencari nama-nama teman, dari TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah. Namun karena saking banyaknya nama-nama yang sama, kami jadi bingung apa benar mereka itu teman-teman yang dulu kami kenal atau nggak, maklum sudah sekian lama kita terpisah. Salah satu pencetus ide reuni ini adalah Mr. Damang Handoyono. Beliau telah muter-muter keliling/searching nama–nama teman-teman dari facebook tersebut (seperti lagu si Gigi “...berawal dari facebook...”).

Beberapa hari kemudian setelah hampir putus asa mencari, beliau teringat satu nama yang unik dan ternyata beliau yakin akan sebuah nama yang tidak ada duanya, yaitu BATIK IDA ASTUTI. Ternyata ketemulah nama tersebut disertai foto seorang wanita cantik dan manis yang beliau yakini itulah Mrs. Batik Ida Astuti, teman sekelas saat di kelas 2A3.1 dulu... Selanjutnya kalau tidak salah lagi, dari Mrs. Batik tersebut muncul nama-nama teman SMA yang lainnya lagi, baik yang sekelas waktu di kelas 1, maupun sekelas waktu di kelas 2 dan lain-lain, bahkan adik dan kakak kelas SMA pun bermunculan. Saat-saat itu adalah saat yang cukup berkesan, karena kita bisa saling bertemu muka (walau hanya lewat foto-foto yang tertempel di PROFIL didalam facebook), kita bisa panjang lebar ngobrol (walau hanya lewat tulisan di WALL yang ada di facebook) mengenai kabar kita masing-masing meskipun kita saling berjauhan, ada yang di NTT, Barito, Jogja, Jakarta, bahkan ada yang di Lebanon sedang bertugas menjadi Pasukan Garuda serta ada yang sudah jadi warganegara Belanda maupun Australia.


S
uatu
ketika Rotmianto, teman 1E, pada tanggal 10 Mei 2009 mengirim SMS mengajak untuk berkunjung kerumah Bobbin Nila, teman 1E juga, kita bertiga ngobrol banyak waktu itu dan sempat menggagas untuk mengadakan REUNI, lalu kuberanikan diri untuk melontarkan dalam facebook.

Singkat cerita, bertepatan dengan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tanggal 8 Juli 2009, seorang teman dari kelas B yang bernama Mrs. Diah Tartika (Dinuk) menanyakan rencana kumpul-kumpul reuni kecil-kecilan. Saat itu langsung aja kita kontak teman-teman untuk ketemu di Restoran Kebun Kota, Jl. Menganti Wiyung Surabaya. Akhirnya yang datang pada saat itu ada sekitar 22 orang.

Beberapa hari kemudian di rumah Mr. Bagus Satriawan, tepatnya tanggal 20 Juli 2009 di Ketintang Surabaya beberapa orang di antara kita, antara lain: Luthvi Saidul Ali (D), Rina Irawati (D), Carolus Satrio (C), Damang Handoyono (D), Bagus Satriawan (A), Puguh Sugiharto (A) dan Fatmawati (D) berkumpul kembali mematangkan rencana REUNI SEANGKATAN 1990. Di tempat itulah kita membentuk Panitia Kecil agar rencana REUNI SEANGKATAN 1990 dapat terkoordinasi dengan baik. Dan juga kita membentuk para Koordinator Kelas tiap masing-masing kelas.

Link terkait:
1. Sejarah SMA Negeri 18 Surabaya.
2. Susunan Panitia Reuni.
3. Kelas A.
4. Kelas B.
5. Kelas C.
6. Kelas D.
7. Kelas E (kelasnya si Rotmi).
8. Foto Acara Perpisahan Kelas 1-E.


Keterangan foto:
1. Atas: foto perpisahan Kelas 1-E SMAN 18 Surabaya di Ketintang Baru (Rabu, 5 Juni 1991).
2. Tengah: "Reuni Kecil" Damang, Rotmi, Bobbin di Kalijudan (Minggu, 10 Mei 2009).
3. Bawah (2 foto): Pra Pembentukan Panitia Reuni di "Kebun Kota" (Rabu, 8 Juli 2009).

Selengkapnya ...

Selasa, Agustus 25, 2009

Lawu 1994 - 2009





SEGENGGAM DOA DARI PUNCAK HARGO DUMILAH (3265 m dpl)
Minggu, 17 Agustus 2009
by: Rotmi


"Terima kasih, Tuhan... Hanya karena karunia-Mu kami dapat menginjakkan kaki di tempat ini lagi setelah 15 tahun berlalu. Sesungguhnya gunung-gemunung dan seluruh alam semesta tunduk pada keteraturan takdir-Mu. Maka, apalah artinya kami yang lemah ini di bawah kemahabesaran-Mu?"

"Dan pada hari yang penuh makna ini, hari dimana negeri kami Indonesia Raya Engkau ridhoi untuk merdeka sejak 64 tahun lalu, kami rangkaikan sekedar-kedarnya pengharap pada-Mu: agar negeri ini kelak benar-benar merdeka dan merdeka yang sebenar-benarnya. Sekarang belum, ya Tuhan... kami belum merdeka. Kami masih dijajah oleh kemiskinan, keterbelakangan juga kejumudan yang boleh jadi semua itu adalah muara dari tabiat para oknum yang Engkau amanati kepemimpinan tapi mereka khianati dengan perbuatan tengik macam korupsi kolusi dan nepotisme. Kami juga masih dijajah oleh kepentingan-kepentingan asing yang berkalikong dengan mereka - para oknum pengkhianat itu - merenggut dan memperkosa alam kekayaan kami, yang sejatinya adalah hak anak-cucu kami. Pun kami masih dijajah oleh tangan-tangan laknat terorisme yang entah dari mana asalnya dan dengan lancang mengatasnamakan-Mu dalam menebarkan tindakannya. Ampunilah kami ya Tuhan... Ampunilah kami... Dan mohon, kelak benar-benar merdekakanlah kami dengan sebenar-benarnya kemerdekaan... Kabulkanlah, Wahai Sang Kuasa..."

Foto-foto:
1. Detik-detik pengibaran Sang Merah Putih di Telaga Kuning, Gunung Lawu.
2. Barisan peserta upacara.
3. Tim Fakultas Teknik UMP (dari kiri) Agus Dian, Ade "Bung Tomo", Rochani, Bruri dan saya.
4. Ekspedisi Lawu 15 tahun yang lalu (dari kiri) Mujib, Tri, saya dan Agus BI.

File terkait: Upacara 17 Agustus di Puncak Semeru tahun 1996.

Selengkapnya ...

Sabtu, Mei 30, 2009

"Trofi Ini Saya Dedikasikan Untuk Muslim Sedunia"

Ya, demikianlah kalimat pertama yang diucapkan Yaya Toure kepada sejumlah media di Italia dan Spanyol setelah sukses mengantar FC Barcelona - klub yang dibelanya sejak Agustus 2007 - merengkuh lambang supremasi kejuaraan antar klub paling bergengsi di benua biru, trofi Liga Champion Eropa musim 2008 - 2009. Seperti diberitakan kemarin, pemain kelahiran Pantai Gading 13 Mei 1983 itu menjadi salah satu aktor keberhasilan FC Barcelona menjadi juara setelah membantai Manchester United dengan skor 2 - 0 pada pertandingan final Rabu (27/5/2009) di Roma Italia.
Tak perlu meragukan kehebatan pemain bernomor punggung 24 itu dalam mengawal lini tengah FC Barcelona, yang musim ini menorehkan prestasi terhebat sepanjang sejarah klub yang sudah berdiri sejak tahun 1899 itu, yaitu meraih treble winner (Liga Primera Spanyol, Piala Raja dan Liga Champions Eropa).
Namun tekadnya untuk tetap menjadi seorang Muslim yang baik ditengah-tengah super ketatnya persaingan sebagai pemain bola profesional dan gaya hidup yang serba-bebas di Eropa adalah nilai lebih tersendiri pada diri seorang Yaya Toure. Dengan filosofi bahwa semua yang dicapai hanyalah anugerah dari Sang Kuasa maka ia mendedikasikan trofi Liga Champion itu untuk saudaranya sesama Muslim di seluruh dunia. Gracias, Yaya! Kami turut bangga padamu.
(Sumber: Harian Republika Jumat 29/05/2009)

File terkait:
1. Frederic Kanoute dan kisah sebuah masjid di Sevilla.

Selengkapnya ...

Rabu, Mei 20, 2009

UU BHP: Untuk Kebangkitan Pendidikan Nasional?

Kita mahfum, betapa pendidikan adalah causa prima untuk menuju kebangkitan, baik bagi individu, masyarakat, maupun lingkup yang lebih luas: negara. Dan, pendidikan yang berkualitas akan berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Bahkan Tuhan telah "menuliskan" dalam Lauhul Mahfudz-Nya bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional di Republik ini dilakukan lebih dulu dari pada Hari Kebangkitan Nasional. Maknanya gamblang: kita disuruh-Nya pintar duluan kalau mau bangkit (baca: maju). Tak ada tawar-menawar, tak ada politik dagang sapi seperti kelakuan oknum-oknum politikus untuk berbagi kekuasaan pasca pemilu. Dalam UUD 1945 pasal 31 (amandemen) pun dinyatakan bahwa pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara, demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebenarnya pemerintah melalui Depdiknas telah berada di jalur yang benar dalam upaya memajukan pendidikan nasional dengan merumuskan konsep tiga pilar pembangunan pendidikan. Pertama, pendidikan yang merata dan dapat diakses oleh seluruh anak bangsa. Kedua, pendidikan yang bermutu, berdaya saing tinggi dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ketiga, pendidikan yang dikelola secara good governance. Dari segi konseptual, tiga pilar tersebut memang merupakan persoalan mendasar pendidikan di negeri ini (1). Tapi dalam implementasinya, konsep yang baik itu seringkali tidak sesuai dengan harapan akibat regulasi bikinan pemerintah sendiri yang kontraproduktif. Salah satunya adalah UU BHP (Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan).

UU BHP Mencederai Hak Asasi Rakyat?
UU yang disahkan DPR tanggal 17 Desember 2008 itu memang sarat kontroversi. UU BHP dianggap meliberalisasi dan mengkapitalisasi sektor pendidikan, karena pemerintah meminta (memaksa?) lembaga pendidikan untuk mandiri (baca: mencari uang sendiri) demi membiayai ongkos operasionalnya dengan cara membebankannya kepada masyarakat. Dengan kata lain, UU BHP menyiratkan pemerintah lepas tangan terhadap kewajiban menanggung biaya pendidikan, yang sejatinya adalah amanat UUD 1945. Tak pelak, keberadaan UU tersebut membuat rakyat - terutama lapisan bawah - meradang dan memunculkan demo penolakan besar-besaran. Mencuat pula wacana untuk me-judical review UU tersebut ke Mahkamah Konstitusi.

Menurut pakar pendidikan Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc.,Ed. mem-BHP-kan sektor pendidikan beserta segala implikasinya (terutama privatisasi dan komersialisasi), serta segala konsekuensi dan dampaknya (terutama biaya dan kualitas), diperkirakan akan lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya bagi masyarakat. Kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan - menurut Beliau - sejak dari kabinet pertama sampai sekarang dianggap tidak pernah mempunyai kesinambungan yang jelas mengenai visi dan misi kependidikan nasional ke masa depan. Perhatian hampir semua kebijakan pendidikan terbatas hanya pada situasi saat itu alias bersifat temporer dan pragmatis (2). Karena itu, di mata para praktisi pendidikan di lapangan terutama guru di akar rumput, kondisi tersebut membingungkan dan berdampak sangat buruk bagi kemajuan pendidikan di Indonesia secara keseluruhan.

Walhasil, kemunculan UU BHP yang diharapkan pemerintah dapat memperbaiki kualitas pendidikan nasional dikhawatirkan malah membuat krisis baru yang makin parah. Pemerintah bukan saja dianggap secara terang-terangan hendak mengabaikan cita-cita Pembukaan UUD 1945 dan UUD 1945 pasal 31 (amandemen), tetapi juga dituduh menghalangi hak-hak dasar warganya untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas demi meningkatkan harkat dan martabat diri. Jika benar demikian adanya, bisa-bisa keterpurukan di segala bidang masih akan terus kita rasakan. Indeks kualitas pendidikan Indonesia di mata dunia tidak akan kunjung mentas dari urutan buncit. Kebangkitan Nasional yang dicita-citakan sejak seabad silam pun akan semakin jauh panggang dari api.

Nah, sekarang bertanyalah pada rumput yang bergoyang: berapa biaya riil yang harus dikeluarkan seorang anak bangsa untuk sekedar mengenyam pendidikan - yang seharusnya sudah menjadi haknya - khususnya di perguruan tinggi? Percuma bertanya pada pemerintah. Mereka masih sibuk kongkalikong untuk pilpres bulan Juli mendatang. UU BHP untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional katanya? Jangan bercanda!!!

By: Rotmianto
(Sebuah refleksi kecil di Hari Kebangkitan Nasional. Rabu, 20/05/2009 waktu subuh)

Referensi:
1. Jaringan Mahasiswa Indonesia (JMI).
2. Indonesia On Time dot com.


File terkait:
1. Beberapa potret ketimpangan sosial di Indonesia.

Selengkapnya ...

Jumat, Mei 15, 2009

A Little Lesson from Rainbow

Apa jadinya bila Tuhan menciptakan pelangi dari satu macam warna saja? Mungkin pelangi tidak lagi indah. Hanya kusam saja, monochrome. Karena justru berkat kombinasi spektrum warna mejikuhibiniu itulah pelangi menjadi luar biasa indahnya. Entah akan disebut apa pelangi nantinya jika hanya terdiri dari satu warna.

Demikian pula dengan kehidupan manusia di dunia ini. Tuhan "sengaja" menetapkan bahwa dalam penciptaan manusia, mereka (manusia) akan terdiri dari berbagai suku, bangsa, negara, bentuk fisik, adat-istiadat, nasib, profesi, pemikiran, partai politik, juga agama (lihat QS Al-Hujuraat: 13). Padahal apabila Dia menghendaki, niscaya mudah saja bagi-Nya membuat manusia di muka bumi ini menjadi satu umat saja yang beriman kepada-Nya (QS Al-Maidah: 48). Dari sinilah, dilihat dengan sudut pandang manapun, segala tindakan, perbuatan, maupun skenario yang bermaksud menyeragamkan apa yang telah ditetapkan-Nya berbeda adalah pembangkangan terhadap hukum alam (baca: sunatullah).

Pluralisme adalah nonsense
Paham Pluralisme - yang belakangan menyusup di Indonesia - sesungguhnya dari dulu sampai sekarang selalu mengintip celah untuk menggerogoti ajaran agama-agama yang sudah mapan dan - lebih ngawur dari sinkretisme - hendak merusak fundamental ajaran agama-agama seenak pusarnya sendiri. Mereka adalah pihak yang tidak puas dengan takdir Tuhan. Kemudian merasa lebih pintar alias keminter dari Yang Maha Mengetahui. Orang-orang seperti Rene Guenon, Frithjof Schuon, John Hick, plus Komunitas Eden, termasuk oknum-oknum yang mensponsori paham sesat itu dapat dikatakan telah lancang menentang takdir Tuhan tentang perbedaan luhur agama-agama itu. Namun dapat dipastikan upaya mereka 'bak mendirikan benang basah. Bakal muspro. Karena kini, pemuka agama-agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dll) semakin menyadari akal bulus mereka. Tinggal kitanya sendiri, yang diharapkan dapat menjalani syari'at agama masing-masing dengan sebaik-baiknya sehingga paham-paham sesat - semanis apapun kemasannya - tidak dapat menggoyahkan kita.

Terorisme Bukan Ajaran Agama
Sangat mengecewakan bahwa stigma teroris disematkan kepada suatu agama tertentu. Padahal, terorisme bukanlah ajaran agama apapun. Pihak-pihak yang melakukan teror tak lebih adalah oknum yang mencatut nama agama demi kepentingan sendiri dan kelompoknya. Maka orang-orang seperti Imam Samudra cs. (pelaku bom Bali), Fabianus Tibo (otak teror Poso) hanyalah sampah masyarakat macam George W. Bush (nah, kalau ini memang biangnya teroris!), Ehud Olmert (mantan PM Israel, penjahat perang Palestina) ataupun Adolf Hitler (gembong Nazi di Perang Dunia II). Mereka hanyalah sekumpulan megalomaniac yang tak pantas didukung apalagi ditiru.

Last but not least, Pluralisme sama sesatnya dengan paham-paham lain semacam Naziisme atau Zionisme yang memang gemar menghancurkan bangsa/agama/golongan di luar mereka. Kembali lagi, bahwa dengan pendalaman yang paripurna tentang ajaran agama masing-masing akan membuat manusia lebih bijak dalam mengarungi kehidupan yang penuh perbedaan ini. Dan membina kehidupan yang sebaik-baiknya dengan sesama manusia - meskipun berbeda-beda agama, keyakinan, ras, suku, bangsa, bahasa, dan lain-lain adalah kebaikan yang terbaik dalam hidup. Kehidupan pun akan seindah-secemerlang pelangi yang terdiri dari berbagai warna dan tidak dicampuradukkan satu sama lain. Pelangi indah karena berbeda-beda. Sejatinya, kehidupan seperti itulah yang didambakan kita semua di dunia ini.

By: Rotmianto (Unmuh Ponorogo, ba'da Sholat Jumat, 15/05/2009)
Terinspirasi setelah membaca artikel tentang Pluralisme di Harian Umum Republika (Kamis, 14/05/2009)

Selengkapnya ...

Kepompong

















Ehm ...

K
ata
penyanyi Sindentosca, persahabatan itu indah 'bak kepompong. Memang benar. Saya dapat merasakannya. Anda?




Biarkan foto-foto itu berbicara. Dan meskipun waktu berlalu, yang namanya persahabatan tidak akan lekang oleh waktu. Ajaib, berkat sebuah situs jejaring sosial Facebook, kami merasa tidak pernah berjauhan ... (Foto atas bersama teman-taman SMA, foto bawah bersama teman kuliah).

Selengkapnya ...

Sabtu, April 25, 2009

Kontrasmu Bisu

Lihatlah dua antrian bak bumi dan langi ini: yang satu antri membeli berlian di toko perhiasan Felice Senayan City Jakarta dengan harga jutaan bahkan ratusan juta rupiah, sementara antrian lainnya adalah untuk mendapatkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang "hanya" sebesar Rp 200.000,00 di Purbalingga Jawa Tengah (gambar bawah). Terjadi pada hari yang sama, Rabu/22 April 2009.

Melihatnya saya (mungkin juga Anda) tak 'kan tahan. Betapa sebagian besar orang di negeri ini sampai jungkir-balik hanya untuk sekedar menyambung nafas sehari-hari, sementara yang lainnya hidup bermewah-mewah, abai dengan keadaan orang lain. Mata kepalanya - apalagi mata hatinya - sepertinya sudah tertutup oleh syahwat hedonisme. Sangat menggiriskan. Tiba-tiba saya teringat lagu lama Iwan Fals "Kontrasmu Bisu", cocok untuk mengilustrasikan perbedaan nasib yang tidak adil itu.

" ... Si kaya bertambah gila, dengan harta kekayaannya.
Luka si miskin, semakin mengaga ...
... Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah,

manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan ... "

Oh, Tuhan ... Betapa langkanya keadilan di negeri ini!

* Keterangan:
Berita selengkapnya di Harian Jawa Pos (Kamis/23 April 2009) atau Klik ini.

Selengkapnya ...

Sabtu, April 11, 2009

Pemilu vs Hutang Negara







"Pada Hari Pencontrengan"


Pada hari pencontrengan, langit mencemooh Indonesia:
"Ha, terlalu mahal harga yang kau bayarkan untuk demokrasi, Indonesia!"
Indonesia berkilah,
"Kami hanya ingin memperbaiki diri."
Langit mendengus, menyibak tabir:
"Apakah kau lupakan? Pengunungan hutangmu telah menutupi purnama. Kau ciptakan gerhana bagi masa depan anak-cucumu sendiri."
Indonesia terdiam.
"Kalau bukan karena Dia, kau sudah tenggelam dalam buku sejarah!"
"Apa aku harus mencari jalan selain demokrasi?" tanya Indonesia.
Tapi langit terlanjur menyingsing.
Indonesia pun makin hening.
Ia harus mencari sendiri jawabannya ...

***

(Adaptasi puisi Muhammad Iqbal "Hari Pertama Penciptaan")

PS:
Sekedar untuk mengingatkan: hutang luar negeri Republik Indonesia sampai tahun 2008 mencapai Rp 1300 triliyun. Ada yang mengatakan, setiap bayi yang baru lahir di republik ini sudah menanggung hutang sekitar Rp 8 juta per kepala. Kasihan, baru lahir procot dan tidak tahu apa-apa sudah menanggung hutang sebesar itu. Apakah hutang itu bisa terbayar sebelum akhir zaman? Wallahu 'alam.
(Dari berbagai sumber)

File terkait:
1. Puisi Iqbal "Hari Pertama Penciptaan".
2. Pemilu vs Orang Miskin.

Selengkapnya ...

Rabu, April 08, 2009

For You to Remember



Aku rindu mencumbu alam
Memeluk
kabut
Membelai embun
Memacu
nafas di heningnya belantara
...
Dan di puncak itu, nafsuku menggelegak!

Seratus tahun tak 'kan cukup untuk memuaskanku ...*

Special thanks for Suprianto LA. Because of him, I can post this picture.

File terkait:
1. MahaPuspa Wisuda Arjuna 1996.
2. Pendakian MahaPuspa Wisuda-Wisuda lainnya.


* Ket.: petikan lagu lama "If I Only Had Time"/John Rowles.

Selengkapnya ...

Sabtu, Maret 28, 2009

Pemilu vs Orang Miskin

Anda tahu berapakah ongkos yang harus dibayar dalam rangka membiayai pemilu 2009? Dibandingkan dengan Pemilu 2004 yang hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 3,5 triliun untuk Pemilu DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD serta Pemilihan Presiden (Pipres), maka Pemilu 2009 mengalami lonjakan yang sangat tajam. Ketua KPU, Abdul Hafidz Anshori menyebutkan total anggaran KPU dan Pemilu 2009 sekitar Rp 47,9 triliun! Anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan KPU dan Pemilu masing-masing sebesar Rp 18,6 triliun untuk tahun 2008, dan Rp. 29,3 triliun untuk proses Pemilu 2009.
Hmm ... Rp 47,9 triliun itu uang semua ya? Apa campur kreweng*? Kecuali kalau dengan uang sedemikian besarnya itu kita mendapatkan pemimpin (baik di tingkat pusat maupun daerah) yang benar-benar mumpuni dalam segala hal baik kapabilitas maupun moralitasnya tentu tidak masalah. Tapi tipikal pemimpin yang ada sekarang ini sering-seringnya malah kebalikannya. Sudah banyak kesalahan yang dibuat para pemimpin kita. Sampai malas saya menyebutkan satu per satu.
Yang jelas, uang sebanyak itu andaikata digunakan untuk mengentas kemiskinan tentunya akan lebih bermanfaat. Setidaknya untuk mengamalkan amanat UUD 1945 pasal 34 ayat 1: "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara" yang kayaknya kurang optimal dilaksanakan. Fakir miskin, anak-anak yatim piatu, anak putus sekolah, penderita busung lapar, gizi buruk, gelandangan-gelandangan, korban bencana alam, pengangguran masih banyak di sekitar kita. Menurut Kompas 13 Februari 2009, disebutkan bahwa kaum miskin di Indonesia sudah menyentuh angka 33,714 juta orang. Jumlah riilnya tentu saja jauuuh di atas itu!
Yah, tapi karena (katanya) pemilu juga penting, maka semahal apapun biaya yang dikeluarkan, kita tak bisa apa-apa kecuali berharap: semoga dengan pemilu kali ini akan lahir pemimpin sejati ... Agar Indonesia menjadi lebih baik. Dan rakyat tidak kelamaan tenggelam dalam kemiskinan. Just a dream?

Ket.: kreweng (Jawa) artinya pecahan genteng.

File terkait:
1. Jadilah pemimpin seperti Pangeran Diponegoro.
2. Belum ada Parpol yang "Hijau"?


Selengkapnya ...