Kamis, April 24, 2008

Hari Bumi: Save Our Earth!


Hari Pertama Penciptaan, Langit Mencemooh Bumi

… Maka bulan dan bintang-gemintang belajar terbang menari,
ratusan lampu-lampu dinyalakan di angkasa,
matahari menggantung di langit biru
membentangkan kubah emasnya dengan tali-tali berwarna perak,

di ujung timur fajar pertama pecah dan dari dunia yang baru lahir,
Ia mengangkat tabir

Tetapi bumi masih terpencil, sepi dan sunyi …*

(*Petikan puisi Muhammad Iqbal)

Menyimak puisi Iqbal (seorang filsuf Islam asal Pakistan) itu, saya jadi membayangkan seperti apa keadaan bumi di usianya yang masih belia. Bumi pastilah masih sangat indah, segar dan belum ada kerusakan seperti sekarang. Seperti sekarang? Ya, sekarang bumi menjadi seperti ini, tahu sendirilah kenapa. Namun pada peringatan Hari Bumi ini, semoga kita semua kembali sadar, bahwa kita - manusia - diciptakan Tuhan adalah untuk memakmurkan bumi, bukan malah merusaknya.

By the way kenapa Hari Bumi diperingati pada tanggal 22 April? Konon, pada tanggal itu tiga dasawarsa lalu (tepatnya tahun 1970) berkumpul puluhan ribu orang di Fifth Avenue New York AS menyatakan tekad bersama untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Sejak saat itulah setiap tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi.

Di Unmuh Ponorogo, tempat saya "mengais duit", saya salut dengan kegiatan teman-teman MAHIPA (Mahasiswa Islam Pecinta Alam) dalam memperingati Hari Bumi kemarin. Mereka menggelar aksi damai bertajuk “Satu Hari Tanpa Asap”. Kegiatan itu diwujudkan dalam bentuk antara lain tidak mengendarai kendaraan bermotor ataupun tidak merokok di lingkungan kampus. Selain itu, dikampanyekan juga kegiatan yang berhubungan dengan penyelamatan lingkungan seperti mengelola sampah dengan baik (tidak membuangnya sembarangan - tentu saja!, memisahkan sampah organik dengan non organik, dan tidak membakarnya karena hanya akan memperbanyak kandungan karbondioksida di udara), juga ajakan untuk menanam pohon dan tidak menebangnya meskipun hanya sebantang, selain itu dihimbau pula untuk menggunakan bahan bakar dan energi dengan seefisien mungkin. Wah, coba kegiatan seperti itu tidak hanya dilakukan setahun sekali, tapi sebulan sekali, seminggu sekali atau kalau mungkin setiap hari, dan tidak hanya di kampus, tapi di mana saja kita berada, dan apabila itu berlangsung dengan istiqomah, maka slogan “Save the Earth” bukan mustahil untuk segera diwujudkan. Dan barulah manusia bisa disebut sebagai khalifah, pemakmur bumi. Anda setuju?

Keterangan foto:
Berduet dengan Kun pada pendakian MahaPuspa di Lembah Kijang Gunung Arjuna tanggal 10 September 1995. Yang ambil foto adalah Hendro, teman kami mahasiswa ITS yang baru wisuda (file terkait dapat dilihat di sini). Dari beberapa kenalan yang belum lama ini mendaki Gunung Welirang dan Arjuna, kawasan Lembah Kijang dan sekitarnya sudah tidak seindah dulu. Mana hutannya sudah banyak yang gundul. Sayang sekali ...

1 komentar:

hbasuki mengatakan...

hari bumi, kapan kita merasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk berlari, teriak, menangis, tertawa bahkan sembunyi didalam bumi, kapan kita berterima kasih terhadap segala yang kita ambil dari bumi, kapan kita memberi sesuatu kepada bumi ingat bumi menunggu kita karena nanti, besok, lusa kita akan berselimut bumi. viva hari bumi