Sabtu, April 25, 2009

Kontrasmu Bisu

Lihatlah dua antrian bak bumi dan langi ini: yang satu antri membeli berlian di toko perhiasan Felice Senayan City Jakarta dengan harga jutaan bahkan ratusan juta rupiah, sementara antrian lainnya adalah untuk mendapatkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang "hanya" sebesar Rp 200.000,00 di Purbalingga Jawa Tengah (gambar bawah). Terjadi pada hari yang sama, Rabu/22 April 2009.

Melihatnya saya (mungkin juga Anda) tak 'kan tahan. Betapa sebagian besar orang di negeri ini sampai jungkir-balik hanya untuk sekedar menyambung nafas sehari-hari, sementara yang lainnya hidup bermewah-mewah, abai dengan keadaan orang lain. Mata kepalanya - apalagi mata hatinya - sepertinya sudah tertutup oleh syahwat hedonisme. Sangat menggiriskan. Tiba-tiba saya teringat lagu lama Iwan Fals "Kontrasmu Bisu", cocok untuk mengilustrasikan perbedaan nasib yang tidak adil itu.

" ... Si kaya bertambah gila, dengan harta kekayaannya.
Luka si miskin, semakin mengaga ...
... Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah,

manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan ... "

Oh, Tuhan ... Betapa langkanya keadilan di negeri ini!

* Keterangan:
Berita selengkapnya di Harian Jawa Pos (Kamis/23 April 2009) atau Klik ini.

Sabtu, April 11, 2009

Pemilu vs Hutang Negara (Puisi-puisi tentang Pemilu)










Puisi Pemilu1

"Pada Suatu Hari Pemilu"

Pada suatu hari pemilihan, Langit mencemooh Indonesia:
"Ha, terlalu mahal harga yang kau bayarkan untuk demokrasi, Indonesia!"
Indonesia berkilah,
"Kami hanya ingin memperbaiki diri."
Langit mendengus, menyibak tabir:
"Apakah kau lupakan? Pengunungan hutangmu telah menutupi purnama! Kau ciptakan gerhana bagi masa depan anak-cucumu sendiri!"
Indonesia terdiam
"Kalau bukan karena Dia, kau - Indonesia - sudah tenggelam dalam buku sejarah!"
"Haruskah kami mencari jalan selain demokrasi?" tanya Indonesia
Tapi Langit terlanjur menyingsing
Indonesia kembali ditelan hening
Ia harus mencari sendiri jawabannya...
(Rot/Sabtu, 11/04/2009)
***

*Puisi "Pada Suatu Hari Pemilu" ada beberapa istilah yang diadaptasi dari puisi Muhammad Iqbal, filsuf asal Pakistan (1877 - 1938) "Hari Pertama Penciptaan".

PS:
Sekedar untuk mengingatkan: hutang luar negeri Republik Indonesia sampai tahun 2008 mencapai Rp 1300 triliyun. Ada yang mengatakan, setiap bayi yang baru lahir di republik ini sudah menanggung hutang sekitar Rp 8 juta per kepala. Kasihan, baru lahir procot dan tidak tahu apa-apa sudah menanggung hutang sebesar itu. Apakah hutang itu bisa terbayar sebelum akhir zaman? Wallahu 'alam.
(Dari berbagai sumber)


Puisi Pemilu 2

"Balada Rakyat yang Dilacurkan"

Pada malam menjelang pemilihan
para hidung belang politik bergentayangan
Memaksa masuk ke dalam bilik rumah-rumah kita
"Terimalah ini, biar kunikmati suaramu," rayunya sambil menyelipkan beberapa lembar ribuan di sela-sela lipatan kehormatan kita yang tersisa,
"Paling hanya habis dalam sehari-dua, setelah itu selama lima tahun ke depan ganti hak-hakmu yang akan kami perkosa!"
Dan uang memang membutakan siapa saja
orang-orang lebih banyak memilih berbaris antri menggilirkan jatah
membiarkan suaranya dilacurkan dengan harga sedemikian murah
Dan para hidung belang semakin girang
Iblis pun ikut senang
Sementara di nun jauh di sana, beberapa malaikat terpaksa menepi
menurunkan Merah-Putih sampai setengah tiang... 
Oh, sampai kapan di negeri ini suara Tuhan diprostitusikan?
(Rot/Selasa, 30/07/2013 bertepatan dengan Ramadhan hari ke-21)
(Revisi: Kamis, 29/08/2013 bertepatan dengan Pilgub Jawa Timur)*
***

File terkait:
1. Puisi Iqbal "Hari Pertama Penciptaan".
2. Pemilu vs Orang Miskin.

*PS:
Pilkada Jawa Timur menghabiskan biaya lebih dari 800 milyar (atau hampir 15 % dari PAD Jawa Timur yang sekitar 5,7 trilyun per tahun) dan merupakan biaya pilkada terbesar di Indonesia. Sudahkah rakyat sejahtera dengan biaya semahal itu? Sekali lagi: wallahu 'alam...
(Dari berbagai sumber)

Rabu, April 08, 2009

For You to Remember



Aku rindu mencumbu alam
Memeluk
kabut
Membelai embun
Memacu
nafas di heningnya belantara
...
Dan di puncak itu, nafsuku menggelegak!

Seratus tahun tak 'kan cukup untuk memuaskanku ...*

Special thanks for Suprianto LA. Because of him, I can post this picture.

File terkait:
1. MahaPuspa Wisuda Arjuna 1996.
2. Pendakian MahaPuspa Wisuda-Wisuda lainnya.


* Ket.: petikan lagu lama "If I Only Had Time"/John Rowles.