Senin, Agustus 27, 2007

Lala Karnaval 17-an

Putri Raemawasti sih lewat!

Karnaval memperingati Hari kemerdekaan RI tahun 2007, Dik Lala kita berdandan ala polwan. Woow! Cuantik banget, lho! Baju polwannya nyewa, sedang rias wajahnya tak usah jauh-jauh di rumah saja sama umiknya sendiri. Karnavalnya hari Jumat tanggal 10 Agustus mulai pukul 15.00. Rute yang dilewati adalah jalan-jalan protokol di Ponorogo, Jl. Sultan Agung - Jl. Dr. Soetomo - Jl. Soekarno Hatta - Jl. Gadjah Mada & balik lagi ke Jl. Sultan Agung. Jarak yang ditempuh kira-kira 2 kilo. Lumayan kuat juga Dik Lala! Tentang foto: yang besar pas masih siap-siap di rumah, foto kecil saat on the way dalam barisan. "Hormaaat graaak!" Hormatnya kok keliru pakai tangan kiri? He ... he ... he ... dasar kidal!

Jumat, Agustus 24, 2007

MahaPuspa Most Beautiful Pictures (2)







Semeru, termasuk dalam TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Terlalu mengesankan untuk dilupakan. Mana mungkin lupa pada Lembah Bentengan? Sebuah lembah menakjubkan di tengah rute perjalanan antara Bromo - Ranu Pani. Awan berarak terasa begitu dekat di atas kepala dan angin yang membawa debu dari lautan pasir Bromo sesekali menyapa wajah. Kemudian Ranu Pani, sebuah desa yang disebut sebagai "The Gate of Semeru". Desanya masih asri, penduduknya juga ramah. Lalu Ranu Kumbolo, danau indah di tengah hutan belantara antara rute Ranu Pani - Kalimati. Permukaan airnya tenang berkilau saat sunrise atau sunset, dihiasi sederet pinus di sekelilingnya. "The most beautiful place i've ever seen before", begitu kata saya ketika pertama kali melihat Ranu Kumbolo pada akhir tahun 1995. Setelah itu Hutan Jimbaran yang penuh anggrek warna-warni, seterusnya hingga Kalimati , suatu tempat dimana kita bisa melihat edelweiss tumbuh bebas dan rimbun. Berlanjut dengan Hutan Arcapada yang menggairahkan. Hingga pada tujuan terakhir, menuju puncak Mahameru yang curam. Sungguh semua ini seperti hanya ada dalam dongeng, jika tidak mengalaminya sendiri!
... Kapan kita bisa kesana lagi? ...

Keterangan foto (searah jarum jam):
- Di tepi Ranu Kumbolo, waktu Tri, Joko dan Kun sedang ambil air wudhu buat Subuhan (meski sudah kesiangan ...). Ini yang moto saya, pada tanggal 18 Agustus 1996 atau satu hari sesudah insiden longsor di lereng Mahameru.
- Menjelang Hutan Jimbaran dari Ranu Kumbolo. Yang moto juga saya, pada tanggal 31 Desember 1996.
- Foto paling bawah saya dan Mujib di bawah Lembah Bentengan. Yang ambil gambar kalau nggak Agus BI ya Tri (karena pada waktu itu kami cuma berempat), tanggalnya 30 Desember 1995.

Selasa, Agustus 21, 2007

MahaPuspa Most Beautiful Pictures (1)






... bilang "indah" saja tidak cukup!

Benar, jangan hanya dinikmati, tapi juga harus dijaga. Karena bumi dan alam semesta ini diamanatkan-Nya kepada kita. Maka, siapapun kita berhak dan wajib menjaganya. Ketahuilah: untuk menjadi seorang pecinta alam bukan diukur dari seberapa sering dia naik gunung, seberapa jauh dia menelusuri rimba dan gua atau seberapa tinggi dia menaklukkan tebing. Tetapi menjadi pecinta alam ditentukan dari seperti apa dia memperlakukan alam di sekitarnya. Jangan bingung. Contohnya sederhana: menjaga kebersihan sekeliling, seperti selalu membuang sampah pada tempatnya - sekecil apapun - sudah termasuk sebuah sifat kepecintaalaman.
Jadi, sudah siapkah kita untuk menjadi pecinta alam sejati?

Keterangan:
- Foto kanan bawah adalah siluet hutan di Gunung Welirang, saya yang take pada tanggal 20 Mei 1996 setelah Sholat Subuh. Tim yang ikut dalam pendakian tersebut: Agus BI, Kun, Toto, Tri, dan saya sendiri.
- Foto kiri bawah diambil Risa keponakannya Tri menampilkan Gunung Penanggungan dilihat dari Pos Kokopan Welirang pada tanggal 17 Februari 1997, pada siang hari dalam perjalanan turun. Yang ikut dalam pendakian: Agus BI, Herie "Teler", Risa, Retno, Tri, Wijaya dan saya sendiri.
- Foto paling atas adalah Pos Pondokan Welirang yang diliputi kabut di siang hari pada saat recovery menjelang pendakian ke puncak Arjuna. Foto ini saya yang jepret pada hari Jumat 25 oktober 1996 pada saat pendakian wisuda yang pertama, dengan peserta yang cukup banyak. Nantikan file selengkapnya tentang MahaPuspa edisi Wisuda Welirang-Arjuna di blog ini.

Sabtu, Agustus 18, 2007

Jejak-jejak MAHAPUSPA


... menggigil ...
... terharu ...
... tersungkur ...
... di bawah Kebesaran Sang Esa!

" ... Tuhan, jadikan setiap tetes keringatku, setiap langkah kaki lemahku, setiap tarikan nafasku, adalah dzikirku pada-Mu ... "

Keterangan:
- Foto paling atas diambil pas Tahun baru 1996 di Puncak Mahameru. Yang moto Agus BI. Saya teringat, pendakian ini penuh cobaan. Cobaan pertama bermula dari hilangnya carrier Mujib di Terminal Bungurasih, kemudian diterjang badai selama pendakian sampai hampir mati terkena hypothermia, tapi Alhamdulillah masih bisa pulang dalam keadaan hidup ... Rute yang kami ambil adalah lewat Gunung Bromo. Total 7 hari perjalanan start - finish. Rute tersebut merupakan rute terjauh untuk mencapai Puncak Mahameru.
- Anggota tim MahaPuspa edisi "Tahun Baru Semeru": Agus BI, Mujib, Tri dan saya sendiri.
- Foto kiri dan kanan adalah momen peringatan 17 Agustus Tahun 1996 juga di Mahameru. Foto kiri yang ambil saya, kenangan bersama Redis teman SMP yang kebetulan bertemu di puncak. Foto kanan adalah detik-detik dikibarkannya Bendera Merah Putih di puncak tertinggi di Pulau Jawa, diambil oleh Tri. Yang jadi pengerek bendera sebelah kanan adalah teman saya SMA, Bagus "Pukon", yang juga kebetulan bertemu di puncak. Pendakian 17 Agustus ini juga sangat dramatis: sempat terjadi longsor di lereng Mahameru pada saat pendakian menuju puncak. Kejadiannya dini hari, saat sekeliling masih gelap-gulita. Salah seorang anggota tim kami, Rahmad terkena longsoran sampai kepalanya bocor karena tidak sempat menghindar. Terus kenalan kami dari Malang, Mas Mamat malah patah kaki dan harus ditandu ke Ranu Pani (pos pertama ke Semeru). Untung tidak ada nyawa yang melayang. Alhasil, upacara pun berlangsung dalam keadaan penuh duka. Bagaimanapun mengingat buasnya alam Semeru, kejadian seperti itu tidak meminta korban jiwa adalah sebuah karunia sendiri bagi kami semua. Allah sungguh Maha Pengasih ...
- Anggota tim MahaPuspa edisi "17 Agustus Semeru": Kun, Tri, Joko, Rahmad dan saya sendiri.


Best Family Pictures (2)



ZINEDINE - NISWANA


They're the greatest things I've ever had in my life ... O, God ... please bless them ... Give the best for them ... here and next, this time and forever ...


" ... we had joy, we had fun ... we had season in the sun ... but the stars we could reach, were just star fish of the beach ... "


Kamis, Agustus 16, 2007

Best Family Pictures (1)


"FaNtASTic
fO
uR
"

Foto-foto ini diambil waktu masih di
rumah kontrakan lama di Jl. Anilo No. 53 Pakunden Ponorogo.
Foto berbingkai bunga-bunga diambil hari Sabtu 4 Februari 2006 sama dengan foto duet Zid-La sedangkan foto black & white njepret pada hari Rabu tanggal 31 Januari 2007.



Kamis, Agustus 09, 2007

Berkaca pada Diponegoro (Renungan 17 Agustusan)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Demikian Presiden RI pertama Soekarno sering mengingatkan. Benar, berkat jerih-payah para pahlawan dan tentu saja juga berkat rahmat Allah – sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alenia III – kita dapat menikmati alam kemerdekaan yang bulan ini mencapai tahun ke-62.
Tetapi mengenang jasa-jasa pahlawan adalah pekerjaan mudah. Bagaimana dengan meneladani perjuangan mereka? Ini lain soal. Lebih-lebih di masa sekarang, pada saat negeri ini butuh pemimpin yang benar-benar dapat menjadi teladan dan bukan sekadar “pemimpin” yang kebetulan sedang memangku suatu jabatan belaka. Memang tepat kalau ada yang menyebut bahwa kita sedang mengalami “krisis keteladanan”. Walhasil, semakin panjang saja daftar krisis yang harus kita derita!
Nah, pada kesempatan kali ini penulis mengetengahkan salah seorang putra terbaik bangsa yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk berjuang meraih kemerdekaan. Beliau adalah Pangeran Diponegoro.
Ada
dua alasan kenapa penulis memilih Diponegoro (dengan tanpa mengecilkan peran pahlawan lainnya). Pertama, perjuangan (baca: perang) yang dilakukan Diponegoro melawan penjajah Belanda merupakan perang terbesar yang pernah terjadi di Nusantara. Perang yang disebut Java War dalam literatur Inggris atau de Oorlog op Java dalam literatur Belanda itu disebut terbesar karena berlangsung cukup lama, 5 tahun (tahun 1825 – 1830), menggunakan strategi perang yang belum pernah ada di dunia sebelumnya, yaitu Stelsel Benteng dan memakan korban yang luar biasa banyak: 15.000 serdadu di pihak Belanda dengan rincian 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa dan 7.000 serdadu pribumi (serdadu bayaran yang umumnya berasal dari Madura, Bali dan Ambon) serta membunuh 200.000 orang Jawa dan membumihanguskan hampir seluruh daerah Jogyakarta. Adapun total biaya perang di pihak Belanda adalah sebesar 19 juta Gulden, yang kemudian dibebankan kepada Sultan Jogya. Menunjukkan betapa luar biasanya perjuangan yang beliau lakukan.
Kedua, dari sisi psikologis yaitu sifat-sifat beliau yang luhur yang patut dijadikan acuan bagi siapa saja, khususnya bagi para pejabat yang berkat jasa pahlawan – termasuk Diponegoro – mereka sekarang bisa ongkang-ongkang di kursi kekuasaan.

Latar Belakang Java War
Diponegoro mengajak rakyat berperang dengan semboyan “Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi tekan pati” (sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati) melawan serdadu Belanda pimpinan Jendral de Kock adalah untuk Jihad fi Sabilillah (berjuang di jalan Allah) demi kehidupan yang lebih baik. Faktor Jihad-lah yang menjadi motivasi terkuat beliau. Jadi sama sekali bukan demi pemuasan obsesi pribadi, kepentingan keluarga, golongan apalagi partai politik tertentu. Cita-cita beliau adalah mendirikan Balad (negara) Islam yang adil bagi seluruh rakyat berdasarkan Al-Qur’an (Djamhari: 2003, hal. 233).
Moedjanto (dari http:// kompas.com/ kompas-cetak/ 0405/ 17/ opini/ 990509.htm) juga menyebutkan sebagai suatu gerakan menuntut keadilan. Akumulasi ketidakadilan yang dipicu dari berbagai praktek penindasan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat, mendorong rakyat menunggu-nunggu datangnya pemimpim yang mempunyai tradisi pemerintahan dan keprajuritan serta yang terkenal dekat dengan rakyat, yaitu Pangeran Diponegoro.
Sayangnya, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (Kartodirdjo, dkk: 1975) yang menjadi referensi buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah terlalu menitikberatkan pada konflik internal dan perebutan tahta Kraton Yogyakarta serta faktor diserobotnya tanah makam leluhur beliau di Tegal Rejo oleh Belanda sebagai penyebab perang. Demikian pula dalam Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (Ricklefs: 2005). Faktor jihad fi sabilillah, entah kenapa sering tidak dimunculkan. Alergi dengan kata “Jihad”? Wallahu’alam.

Kepribadian Diponegoro
Berikut sifat-sifat Diponegoro yang menjadikan nama beliau harum dan disegani kawan maupun lawannya. Perlu ditiru siapa saja khususnya pemimpin zaman sekarang.

  • Egaliter. Meskipun Diponegoro berkedudukan tinggi tetapi beliau dikenal dapat bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat tidak peduli bangsawan maupun rakyat jelata. Terbukti begitu perang meletus, rakyat pun membela tanpa diminta.
  • Sederhana. Sebagai seorang pangeran Kraton Yogya, Diponegoro bisa saja hidup bermewah-mewah tetapi berkat pengetahuan agama yang dalam beliau memilih hidup zuhud. Bahkan beliau sering memakai pakaian yang sama sederhananya dengan yang dipakai rakyat.
  • Cerdas. Diponegoro tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga sangat piawai meracik strategi sehingga membuat Belanda yang berkekuatan jauh lebih besar kesulitan memadamkan perjuangannya.
  • Ksatria. Beliau sering dengan berani memimpin sendiri operasi-operasi militer, tidak hanya duduk-duduk saja di tenda komando menunggu hasil perang. Disebutkan juga sifat ksatria beliau lainnya dalam Babad Diponegoro bahwa beliau pernah berkesempatan menusukkan keris pada si musuh besar Jendral de Kock dalam perundingan untuk mengakhiri perang pada tanggal 28 Maret 1830 di Magelang, tetapi hal itu tidak beliau lakukan.
  • Mencitai rakyat. Dalam perundingan di Magelang tersebut, beliau mengatakan bahwa apabila ada yang harus dihukum atau dibunuh karena perang yang terjadi maka dialah orangnya, rakyat Jawa tidak bersalah dan hanya mengikutinya saja. Hal itu dilakukan karena beliau mencintai rakyatnya, melebihi diri beliau sendiri.
  • Menepati janji. Beliau dikenal selalu menepati janji, bahkan kepada pihak musuh sekalipun.

Jadi, apabila pada zaman ini masih ada pemimpin dengan tipikal seperti itu maka kita wajib mendukungnya 100 %. Tetapi pemimpin yang sekarang banyak beredar malah kebalikannya: sudah tidak merakyat, bergaya hidup mewah, culas dan tega mengorbankan kepentingan orang banyak demi nafsu pribadi, golongan, atau partainya, terlebih selalu mengingkari janji-janji yang dia buat sendiri sebelum berkuasa (baca: ketika kampanye).Ingat, kita pun saat ini sedang dalam “masa perang”. Memerangi KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), kemiskinan, kebodohan, ekonomi yang amburadul, birokrasi yang carut-marut, biaya kesehatan yang mahal, sistem pendidikan yang membingungkan, tingkat kriminalitas yang tinggi, maraknya peredaran narkoba, kemerosotan moral, hutang-hutang luar negeri dan masih sangat banyak “perang” yang harus kita hadapi. Pendek kata: kita butuh pimpinan yang mumpuni, ya seperti Diponegoro itu! Agar rakyat negeri ini secepatnya mencapai cita-cita kemerdekaan yaitu kesejahteraan bangsa Indonesia, seperti yang juga dicita-citakan para pahlawan pendahulu kita, termasuk Pengeran Diponegoro. Tetapi, masih adakah orang seperti beliau? Kalaulah ada, pasti sudah tergolong makhluk yang sangat langka!

...
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali Tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
...*


*Ket.: petikan sajak berjudul “Diponegoro” karya Chairil Anwar/tahun 1943

(Artikel ini dimuat di mingguan lokal Ponorogo Pos No. 310 Tahun VI, 09 - 15 Agustus 2007)

Tambahan: Untuk Mbak Niek, thank's atas koreksi ejaannya.

Selasa, Agustus 07, 2007

Zidney: His First Day School

Hari Senin tanggal 16 Juli 2007 si Zid pertama masuk SD. Sudah tahu nama SD-nya 'kan? Tepat: SDIT Full Day School Qurrota A'yun Ponorogo.
Ini dia hasil jeprat-jepretnya. Waktu dia siap-siap mau berangkat sekolah di depan rumah, dengan baju seragam baru yang super keren. Kemudian foto satunya si Zid di antara teman-temannya sedang upacara bendera hari Senin dalam rangka pembukaan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Dia di barisan terdepan, eggak pakai topi karena belum jadi.
Beberapa temannya masih ada saja yang nangis atau rewel minta ditunggu orang tuanya. Tapi si Zid berani lho! Malah langsung akrab dengan teman-teman sekelasnya. Oya, nama kelasnya: Kelas 1 Ustman bin Affan. Bismillah .. sukses ya, Zid!

Sabtu, Agustus 04, 2007

Zidney: His Last Kindergarten's Days (2)



Rabu tanggal 27 Juni 2007 adalah benar-benar menjadi hari terakhir Zidney sebagai murid TK Aisyiyah Banyudono Ponorogo, tepat di hari ultahnya yang ke-7 .
Hari itu ijazah TK-nya diserahkan, juga buku-buku dan seluruh hasil karyanya selama menempuh bangku TK, buat kenang-kenangan. Besok-besok kalau dia ke sini lagi sudah sebagai "alumnus". Yaaa, sekali-sekali harus nyambangi TK, lagian Dik Lala 'kan masih 1 tahun lagi di sini. Beberapa adegan lucu yang sempat terekam: acara salam-salaman si Zid dan teman-temannya dengan adik-adik kelas, termasuk salaman dengan Dik Lala. Terus satu foto lagi waktu di si Zid pencilaan di halaman sekolah. Woow ... dia dan temannya pada pamer gede-gedean gigi! Perpisahan TK yang ada hanya kegembiraan semata. Coba perpisahan SMA atau kuliah, pasti pada banjir air mata ...

Zidney: His Last Kindergarten's Days (1)


Detik-detik terakhir si Zid di TK Aisyiyah Banyudono Ponorogo. Hari Selasa 26 Juni 2007, tepat satu hari sebelum ultahnya ke-7, dilangsungkan acara perpisahan TK yang asyik punya. Muter-muter kota naik kereta kelinci bersama-sama ibu-ibu guru. Tidak cuma anak kelas B-2 atau yang mau lulus TK saja yang ikut, tapi kelas A dan B-1 juga diajak. Orang tua murid juga nimbrung. Si Zid satu kereta sama Dik Lala dan Umik. Kereta yang disewa kira-kira ada 6 buah. Wah, serunya!
Dan yang paling penting jangan pernah lupa pada ibu-ibu guru TK yang telah sabar dan telaten mendidik kalian: (pada foto di atas) Bu Wanti (kepala TK) yang berdiri di tengah memakai baju merah, kemudian dari kiri Bu Anna (guru B-1), Bu In (guru B-1) , Bu Yatik (guru B-1, favoritnya si Zid dan Dik Lala), kemudian Bu Dian (juga guru B-1), Bu Wigih (guru B-2), dan Bu Dar (guru TK A). Bu Endang (guru TK A) dan Bu Tutik kelewat enggak ikut difoto.
Si Zidni (memakai baju kuning) dan Dik Lala (baju jilbab merah muda) tenggelam di antara keroyokan teman-temannya. Foto satunya Zid-La sedang action di kereta sama Else (teman sekelasnya yang juga mbeling) .