Lanjutan kisah pendakian saya yang penuh "TER". Terjauh, terlama, terberat, tertua, dan mungkin... terakhir sebelum memutuskan pensiun alias "gantung carrier": Rinjani (3.726 mdpl), Nusa Tenggara Barat. Tapi... apakah setelah Rinjani benar-benar akan PENSIUN mendaki?
Catatan:
- Part 1 di sini Kenangan Tiga Tahun Rinjani (2018-2021) Part 1
- Part 2 di sini Kenangan Tiga Tahun Rinjani (2018-2021) Part 2
HARI KETUJUH (NB: pendakian terhitung hari kelima) Jumat, 29 Juni 2018. Teriring selalu rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt., kami menikmati pagi yang indah di Pelawangan Senaru. Sekadar menceritakan bahwa semalaman di sekeliling tanda kami disantroni anjing-anjing liar yang mengendus-endus mencari makanan. Ini mungkin juga ciri khas pendakian Rinjani. Kalau siang sering berjumpa monyet, malamnya anjing liar. Sebagai sesama makhluk Tuhan yang berbagi tempat di Bumi, maka saya tidak keberatan. Jadi biarkan saja. Asal bukan diganggu "penampakan", hehehe... Dan yang penting bagi pendaki: selalu jaga baik-baik barang bawaan serta pastikan tenda tertutup rapat apabila ditinggal tidur atau keluar. Soalnya kalau tenda Anda dimasuki binatang, itu bukan salah mereka, tapi salah sendiri lalai menutup tenda. Hehehe.
Sementara, sepagian itu kami berfoto dengan berhiaskan panorama Danau Segara Anak di bawah kami serta Gunung Agung nun jauh di seberang sana di Pulau Bali. Jangan lupakan juga kebun edelweiss yang bertebaran bebas di sekitar Pelawangan. Menambah semaraknya pagi. Foto berikut ini diambil tidak lama setelah matahari terbit. Menunggu sampai cuaca agak hangat, baru kami (berani) keluar tenda. Area Pelawangan Senaru memang masih tinggi (2.461 mdpl), jadi dinginnya masih luar biasa!


