Lanjutan kisah pendakian saya yang penuh "TER". Terjauh, terlama, terberat, tertua, dan mungkin... terakhir sebelum memutuskan pensiun alias "gantung carrier": Rinjani (3.726 mdpl), Nusa Tenggara Barat. Tapi... apakah setelah Rinjani benar-benar akan PENSIUN mendaki?
Catatan:
MASIH DI HARI KELIMA. (NB: pendakian terhitung hari ketiga) Rabu, 27 Juni 2018. Dan masih sibuk mengabadikan euforia di Puncak Rinjani. Tak lupa berfoto bersama buku karya saya sendiri "The DDC Game" dan "Understanding DDC". Setidaknya, bolehlah sekiranya saya bercita-cita agar kelak orang mengenang saya tidak hanya sebagai pustakawan yang membuat e-DDC (electronic DDC) atau e-Class (baca: IKHLAS) Electronic Classification, namun juga sebagai pustakawan penulis. Sebagaimana sastrawan Pramudya Ananta Toer (1925 - 2006) bilang: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Terlebih, kegiatan menulis (di samping membaca) adalah tugas pertama manusia di muka bumi sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al-Alaq ayat 1 (Iqra, bismirabbikal ladzii khalaq/Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan) dan 4 (Alladzi allamaa bil qalam/Yang mengajar manusia dengan pena). Ya, itulah dorongan terbesar saya untuk menulis. Dan tentang buku-buku tersebut ("The DDC Game" dan "Understanding DDC") silakan browsing di Google apabila penasaran dengan isinya. Kebetulan sudah cukup banyak yang mengoleksi dan membahasnya. Hehehe, bukan karena sedemikian top-nya, tapi memang karena buku yang membahas tentang ilmu klasifikasi, khususnya DDC, masih sangat jarang.
Pertama kali dalam sejarah promosi buku di puncak gunung yang dilakukan sendiri oleh penulisnya(?)
Mohon dikoreksi kalau salah :D