Catatan pendakian saya yang penuh "TER". Terjauh, terlama, terberat, tertua, dan mungkin... terakhir sebelum memutuskan pensiun alias "gantung carrier": Rinjani (3.726 mdpl), Nusa Tenggara Barat.
Terhitung HARI PERTAMA saya (Rotmianto Mohamad) memulai petualangan. Berangkat dari rumah Ponorogo (Jawa Timur) Sabtu 23 Juni 2018 dini hari sekitar pukul 00:00, naik motor Suzuki Skydrive tercinta (yang waktu itu odometernya sudah lebih dari 100 ribu km alias balik lagi ke-0 km! Cerita pas 0-nya di sini), berboncengan bersama partner mendaki terbaik: Sudarto alias Darto, asal Pacitan (selain seorang teman lagi the best partner yang namanya Agus Bambang Irawan asal Surabaya domisili di Gresik tapi sayangnya dia tidak ikut karena tidak bisa bolos kerja kayak saya... hehehe).
Sampai Surabaya pagi hari, mampir rumah masa kecil, kampung halaman, sekaligus tempat lahir: Jl. Golf I No. 55 Gunung Sari. Lanjut ketemuan sama Jefri yang sudah janjian sejak beberapa bulan sebelumnya di Jl. Darmo Surabaya, kemudian langsung menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Jefri juga naik motor, Yamaaf Fiction (bukan merk sebenarnya). Dari Tanjung Perak kami naik KM Legundi, kapal satu-satunya trayek Tanjung Perak Surabaya - Pelabuhan Lembar Lombok yang hanya berangkat seminggu dua kali, mulai take off sekitar pukul 15.00. Perjalanan naik KM Legundi memakan waktu sekitar 23 jam, tapi sungguh terasa menyenangkan. Menikmati angin dan arus laut yang relatif tenang. Menikmati sunset. Menikmati salat di atas kapal yang bergoyang. Juga menikmati nasi bungkus di kantin kapal yang mahal tapi hambar, hehehe... NB: tiket kapal waktu itu 225 ribu per orang + 1 motor.