Tampilkan postingan dengan label A Memories Will Never Forget: MahaPuspa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Memories Will Never Forget: MahaPuspa. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 15, 2026

Same-day Memories 1997-2026

 


Same-day memories. Kamis, 10 April 1997 wisuda di kampus Unair. Jumat, 11 April 1997 berangkat ke Basecamp Sumberwringin Bondowoso. Sabtu-Senin, 12-14 April 1997 perjalanan mendaki. Selasa, 15 April 1997 wisuda di puncak Raung.

RIP: rekan kami, Kun Hari Basuki (1976-2023).

Sabtu, Agustus 17, 2019

Longsor Mahameru 17 Agustus 1996 Ala "5 Cm."

Longsor di Mahameru bak novel & film "5 Cm"? Aah, itu sih kami juga mengalaminya sendiri...

Begitulah! Setiap 17 Agustus, mau tak mau kenangan tahun 1996 alias 23 tahun lalu* kembali hadir (*kisah ini saya ceritakan ulang di sini pada 17 Agustus 2019). Saat itu kami bermaksud mengikuti Upacara 17 Agustus di puncak Mahameru, Gunung Semeru, Jawa Timur. Belum hilang dari ingatan, waktu itu masih sekitar pukul 2 pagi WIB. Dikarenakan saking banyaknya pendaki yang ingin bersama-sama melaksanakan Upacara 17-an di puncak, tiba-tiba longsor terjadi. Suara bebatuan bercampur tanah bergemuruh sepanjang lereng Mahameru yang gelap dan curam, menimpa kami tanpa ampun. 

Rabu, April 08, 2009

For You to Remember



Aku rindu mencumbu alam
Memeluk
kabut
Membelai embun
Memacu
nafas di heningnya belantara
...
Dan di puncak itu, nafsuku menggelegak!

Seratus tahun tak 'kan cukup untuk memuaskanku ...*

Special thanks for Suprianto LA. Because of him, I can post this picture.

File terkait:
1. MahaPuspa Wisuda Arjuna 1996.
2. Pendakian MahaPuspa Wisuda-Wisuda lainnya.


* Ket.: petikan lagu lama "If I Only Had Time"/John Rowles.

Kamis, Maret 12, 2009

Founding Fathers of MahaPuspa


Tanpa bermaksud mengecilkan peran rekan MahaPuspa lainnya, keempat makhluk lebus (karena kalau naik gunung pasti tak pernah mandi ... lha airnya sedingin es!) di atas (plus yang moto) adalah "provokator" utama kelahiran MahaPuspa - sebuah perkumpulan pecinta alam dari PSTP FISIP Universitas Airlangga Surabaya pada pertengahan era '90-an.
MahaPuspa dibentuk bukan sekedar untuk mewadahi minat dan hobi kami-kami pada pendakian. Namun lebih dari itu, MahaPuspa (ditakdirkan) hadir adalah sebagai wujud dari turut pedulinya kami pada alam. Kami bersumpah, kami akan selalu peduli pada kelestarian alam, dengan cara apapun, semampu kami!
Untuk rekan-rekan Mahapuspa lainnya jangan kuatir, kalian tetap turut dalam sejarah besar ini. Simak link ini.

Sabtu, Maret 07, 2009

MahaPuspa Most Beautiful Pictures (4)

... Country road, take me home
to the place I belong ...*
Selalu terkenang, selalu terbayang. Ya Tuhan, aku merindu-dendam pada masa-masa itu. Aku mengaku kalah ...

File foto terbaik Mahapuspa lainnya:

Senin, Maret 02, 2009

MahaPuspa: Wisuda - Wisuda (3)

Dulu kita menempuh jalan yang sama
Dulu kita mendaki tanjakan yang sama
Seiring-sejalan, bahu-membahu, tak pernah melepas pegangan tangan
Satu sama lain


Itu du
lu ...
Kini, kita menempuh jalan yang berbeda
Mungkin tanjakannya juga berbeda
Mungkin jalanmu terang dan mulus
Mungkin jalanku gelap lagi berlubang
Atau mungkin malah kebalikannya
Atau (semoga) jalan kita semua aman-aman saja
Atau malah kita semua pada berantakan?
Ah, semoga tidak demikian adanya ...

Kawan tetaplah kawan
Sampai kapanpun
Dalam keadaan apapun

Salam rindu buat semua
Kapan kembali berkelana bersama?

Sempat terlewat, bukan berarti dilupakan. Ya, foto-foto MahaPuspa ini memang pernah "lepas" dari saya. Thank's to Amin, berkat dia akhirnya saya dapat posting foto-foto penting ini. Pendakian Wisuda Semeru tahun 1999, pada saat angkatannya si Heriyanto "Cepeng" (yang saat ini lagi meneruskan S-2nya di Australia) dan Herie "Teler" lulus. Tapi tanggal tepatnya Amin lupa. Saya malah tidak tahu, karena tidak ikut. Peserta pendakian Wisuda Semeru 1999 banyak juga. Dari Agus BI, Amin (pegang bendera AC MIlan), Agus Salim sampai Yudi "Capello", dll, juga yang cewek-cewek golongannya Fitri dan Wanti juga ikut. Saya cukup diwakili Bendera MahaPuspa saja. Toh bendera itu bikinan saya...hehehe... Bravo, Friends!

Klik juga file terkait:
1. Wisuda Arjuna 1996.
2. Wisuda Raung 1997.
3. Wisuda Segara Wedi Kidul 1997.
4. Wisuda Gunung Slamet 1998.
5. Kisah Bendera MahaPuspa.

Sabtu, Desember 27, 2008

Memoar Ranu Kumbolo

"RANU KUMBOLO"

Semua pesona tentang danau ada pada Ranu Kumbolo. Danau yang terletak di tengah-tengah kepungan hutan di pegunungan Semeru, Jawa Timur itu saya sebut sebagai "The most beautiful place i've ever seen" pada waktu pertama kali melihatnya tahun 1995 (atau simak saja dengan meng-klik ini atau ini). Kunjungan saya terakhir ke tempat itu tahun 1997. Wah ... sudah lama ya? Pantas rindu sekali. Ya, saya rindu ingin menyentuh lagi permukaan airnya yang tenang dan dingin, rindu menyibak kabut tebalnya yang selalu hadir di pagi hari, rindu menyimak kepak sayap belibis liar yang senang merenanginya menjelang petang, rindu menggigil kedinginan di dalam tenda yang saya dirikan di tepiannya, rindu pada hijaunya pepohonan pinus yang mengelilinya, rindu pada sekumpulan anggrek liar dan edelweiss yang tumbuh di antara sekawanan perdu di sekitarnya. Pendek kata, saya dilanda rindu mendalam pada segalanya tentang ia. Alangkah senangnya jika bisa ke sana lagi, apalagi dengan teman-teman MahaPuspa dulu. Tapi, mungkinkah? ... Only Heaven knows ...

Minggu, Desember 07, 2008

Truf?

Sebetulnya ini rahasia. Malu kalau diceritakan di sini. Tapi, sekali-sekali yaaa ... yang buruk-buruk juga diceritakan. Masa cuma yang baik-baik? Alkisah, "cecunguk-cecunguk" MahaPuspa - disamping hobi naik gunung - punya kebiasaan hobi banget main kartu sampai berjam-jam, bahkan sering sampai semalam suntuk. Segala macam permainan kartu mulai truf, heart, remi sampai yang aneh-aneh seperti omben bawor pernah kami mainkan. Sebagai informasi, permainan yang namanya omben bawor itu dulu yang memperkenalkan pertama adalah si Muji Hadex. Tapi seperti apa cara mainnya sekarang saya sudah lupa. Pokoknya seru banget. Kembali tentang kebiasaan buruk MahaPuspa itu, kebetulan saya menyimpan buktinya. Silakan simak image di atas. Itu bukti otentik waktu kami main truf berempat antara saya, Kun, Herie "Teler" dan Agus B.I. di rumah Kun pada hari Senin tanggal 18 Januari 1999 atau pas sehari setelah pulang dari Safari Ramadhan ke Bojonegoro - Cepu - Madiun (file terkait dapat dibaca di sini ). Mulai main jam 10 malam atau setelah Sholat Tarawih berjamaah dengan diimami oleh Ustadz "Mblarah" Gus B.I. Baru buyar menjelang waktu sahur. Diiringi sama lagu-lagu Shalawatan Emha Ainun Nadjib dari tape-nya Kun yang imut tapi butut. Dasar makhluk-makhluk mursal, mestinya malam di bulan Ramadhan dipakai untuk banyak-banyak beribadah, lha ini malah main kartu ... Diiringi Shalawatan lagi! Tapi jangan kuatir, meskipun kami hobi banget main kartu, kami satu kali pun tidak pernah taruhan pakai uang. Bahkan sekedar taruhan beli semangkuk bakso saja tidak pernah! Jadi, kami tetap "clean" kan? ... He .. he ... Bisa saja membela diri. Oya, lagi-lagi sekedar informasi: pada kesempatan itu pemenang truf adalah Kun, saya juara 2. Para pecundangnya adalah Agus dan Herie. Mereka sih memang langganan keok ... haha ... hahahaa ... Sementara yang lainnya: Tri, Yoyok, Toto, Muji Hadex, Amin dan Heri "Cepeng" malah pada molor semua (dasar letoy!).

Kamis, April 24, 2008

Hari Bumi: Save Our Earth!


Hari Pertama Penciptaan, Langit Mencemooh Bumi

… Maka bulan dan bintang-gemintang belajar terbang menari,
ratusan lampu-lampu dinyalakan di angkasa,
matahari menggantung di langit biru
membentangkan kubah emasnya dengan tali-tali berwarna perak,

di ujung timur fajar pertama pecah dan dari dunia yang baru lahir,
Ia mengangkat tabir

Tetapi bumi masih terpencil, sepi dan sunyi …*

(*Petikan puisi Muhammad Iqbal)

Menyimak puisi Iqbal (seorang filsuf Islam asal Pakistan) itu, saya jadi membayangkan seperti apa keadaan bumi di usianya yang masih belia. Bumi pastilah masih sangat indah, segar dan belum ada kerusakan seperti sekarang. Seperti sekarang? Ya, sekarang bumi menjadi seperti ini, tahu sendirilah kenapa. Namun pada peringatan Hari Bumi ini, semoga kita semua kembali sadar, bahwa kita - manusia - diciptakan Tuhan adalah untuk memakmurkan bumi, bukan malah merusaknya.

By the way kenapa Hari Bumi diperingati pada tanggal 22 April? Konon, pada tanggal itu tiga dasawarsa lalu (tepatnya tahun 1970) berkumpul puluhan ribu orang di Fifth Avenue New York AS menyatakan tekad bersama untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Sejak saat itulah setiap tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi.

Di Unmuh Ponorogo, tempat saya "mengais duit", saya salut dengan kegiatan teman-teman MAHIPA (Mahasiswa Islam Pecinta Alam) dalam memperingati Hari Bumi kemarin. Mereka menggelar aksi damai bertajuk “Satu Hari Tanpa Asap”. Kegiatan itu diwujudkan dalam bentuk antara lain tidak mengendarai kendaraan bermotor ataupun tidak merokok di lingkungan kampus. Selain itu, dikampanyekan juga kegiatan yang berhubungan dengan penyelamatan lingkungan seperti mengelola sampah dengan baik (tidak membuangnya sembarangan - tentu saja!, memisahkan sampah organik dengan non organik, dan tidak membakarnya karena hanya akan memperbanyak kandungan karbondioksida di udara), juga ajakan untuk menanam pohon dan tidak menebangnya meskipun hanya sebantang, selain itu dihimbau pula untuk menggunakan bahan bakar dan energi dengan seefisien mungkin. Wah, coba kegiatan seperti itu tidak hanya dilakukan setahun sekali, tapi sebulan sekali, seminggu sekali atau kalau mungkin setiap hari, dan tidak hanya di kampus, tapi di mana saja kita berada, dan apabila itu berlangsung dengan istiqomah, maka slogan “Save the Earth” bukan mustahil untuk segera diwujudkan. Dan barulah manusia bisa disebut sebagai khalifah, pemakmur bumi. Anda setuju?

Keterangan foto:
Berduet dengan Kun pada pendakian MahaPuspa di Lembah Kijang Gunung Arjuna tanggal 10 September 1995. Yang ambil foto adalah Hendro, teman kami mahasiswa ITS yang baru wisuda (file terkait dapat dilihat di sini). Dari beberapa kenalan yang belum lama ini mendaki Gunung Welirang dan Arjuna, kawasan Lembah Kijang dan sekitarnya sudah tidak seindah dulu. Mana hutannya sudah banyak yang gundul. Sayang sekali ...

Sabtu, November 10, 2007

MahaPuspa Most Beautiful Pictures (3)


... Country road, take me home
to the place I belong ...

Bait di atas adalah petikan lagu John Denver "Country Road" yang populer di era tahun 80-an, amat-sangat sesuai sekali untuk menggambarkan 'how beautiful'nya petualangan-petualangan yang pernah dilakukan Mahapuspa. Nah, bagaimana generasi baru PSTP-Unair saat ini? Masih adakah yang berminat untuk meneruskan sejarah MahaPuspa? Kami tunggu!

Selasa, Oktober 23, 2007

Beautiful Ramadhan (4)












Among of MAHAPUSPA's members enjoy to riding through the street too!


Inilah momen Ramadhanan di Bojonegoro tahun 1420 H, tepatnya hari Sabtu dan Minggu 16 - 17 Januari 1999, beberapa hari menjelang Idul fitri. Menginap di rumah "Pak De" Joko, Jl. Serma Ma'un Bojonegoro Kota. Dari Surabaya kami berangkat naik motor berboncengan. Saya sama Agus BI dengan Suzuki Bravo legendaris (karena sampai detik ini masih setia menemani saya), Kun sama Heriyanto "Cepeng" dan Herie "Teler" membonceng Amin. Sementara Muji "Hadex", Toto, Tri dan Yoyok naik bus (pada takut angin kayaknya ... ). Foto di atas waktu lagi jalan-jalan ke pemandian air panas Prataan di pinggiran Bojonegoro sehabis Subuhan pada hari Minggunya. Yang ikut jalan-jalan cuma berlima: Agus BI, Joko, Toto, Yoyok dan saya sendiri, sedangkan sisanya pada ngorok semua di rumah Joko. Foto kiri action ala group band (foto di-take oleh Joko), foto kanan ber-background hutan jati yang menjadi ciri khas daerah Bojonegoro dan sekitarnya (oleh saya). Perjalanan pulang ke Surabaya tak kalah menariknya, muter dulu lewat Cepu mampir di rumah Wanti '95 ("nyonya pertamanya" si Cepeng) kemudian ambil jalur ke Ngawi, lalu mampir di rumah Lina '96 di Madiun sekalian nebeng buka puasa (sebagai catatan: Lina ini "nyonya keduanya" Cepeng ... Gila ya Cepeng ... sudah "membuayai" dua mahasiswi PSTP!!!). Dari Madiun langsung tancap gas ke Surabaya, finish di rumah Kun malam sekitar jam 21.00. Jangan lupa, sempat ada kejadian konyol bin sontoloyo sewaktu masih di sekitar Caruban. Agus BI sok tahu, ngambil jalan pintas dikira tembus langsung ke Jombang, eh malah mbulet tak keruan di pedalaman Caruban selama beberapa jam, dan malah balik lagi ke Ngawi! Akhirnya, habislah si BI jadi bahan gojlokan kami ... Masih ingat engak tuh, yang bersangkutan?
Spesial buat Heriyanto "Cepeng": semoga sukses studi lanjutnya di Australia!

Senin, Oktober 08, 2007

MAHAPUSPA: Wisuda-Wisuda (2)












I
nilah file MahaPuspa edisi Wisuda Gunung Arjuna
seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya. Ini juga merupakan pendakian pertama MahaPuspa yang melibatkan "The Girls" (sebutan pendakiwati MahaPuspa). Pendakian pun jadi lebih "hidup". Karena "pemandangannya" semakin banyak, tidak cuma alam. He ... hee ... tahu kan maksudnya? Dilaksanakan tanggal 25 - 27 Oktober 1996. Dan didedikasikan untuk sahabat-sahabat Angkatan '93 yang sudah lulus (sementara saya sendiri molor satu semester ... ).
Keseluruhan peserta adalah sebagai berikut: (urut abjad dari yang sudah lulus) Bakti, Hanik, Wahyu Fani dan Zaqi alias Oom Jek. (Ini masih kuliah atau yang molor!) Joko, Kun, Toto dan saya sendiri. (Ini dari Angkatan lain) Agus Ahong, Kholik, Supri ('94) dan Agus Salim ('96). Ada juga Kholik satunya lagi (dari F. Ekonomi, selanjutnya disebut Kholik FE).
Terus The Girls terdiri dari: Galuh ('93), Davi, Retno, Wijaya, Yeni ('94) dan Tussi ('96). Sebagai catatan: Galuh juga molor, ketularan saya kayaknya ... he ... he ... (lagi) ... Jadi total jendral ada 19 orang.
Saat itu, hanya dengan urunan masing-masing Rp 8.000,- kami sudah dapat melakukan perjalanan pulang-pergi termasuk konsumsi. Woow, betapa murahnya dibandingkan sekarang!
Kami mengambil rute lewat Gunung Welirang (kebetulan Gunung Arjuna dan Welirang bersebelahan). Perjalanan dimulai dari Kakek Bodo pada hari Jumat sore (tanggal 25 Oktober 1996) sampai di Pos Kokopan pada tengah malam dan nge-camp semalam di situ. Pagi harinya dilanjut hingga sampai Pos Pondokan Welirang dan harus menginap lagi karena cuaca kurang bersahabat. Baru keesokan harinya (Minggu, 27 Oktober 1996) berangkat menuju puncak Gunung Arjuna. Tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan, maka tim terpaksa dipisah menjadi dua: The Girls turun bersama saya, sedang sisanya meneruskan perjalanan sampai ke puncak. Kami perpisahan di sebuah tempat yang indah bernama Lembah Kijang di bawah puncak Gunung Arjuna.
Sementara saya dan The Girls turun gunung Bakti, Hanik, Wahyu Fani, dan Zaqi diwisuda tepat di Puncak Gunung Arjuna disaksikan Agus Ahong, Agus Salim, Kholik , Kholik FE, Supri dan Toto (pada pendakian ini kami memang sengaja membawa baju toga). Sementara itu Kun harus puas ditinggal di Pos Pondokan karena harus menunggui barang-barang (kaciaaan deh, Kun ... he ... hee ... ).
Saya dan The Girls sudah sampai Surabaya pada Minggu petang, sedang Tim Wisuda Puncak Arjuna sisanya baru sampai Senin pagi (28 Oktober 1996). Dan harus ke kampus hari itu juga karena ada UTS (Gila ya! Sehari sebelum UTS masih saja klayapan di gunung!). Tetapi Alhamdulillah semua berjalan baik, meski sempat diwarnai insiden Supri kesasar dan kehabisan bekal waktu perjalanan turun. Secara keseluruhan pendakian MahaPuspa edisi Wisuda Gunung Arjuna bisa dibilang sakses.
Ekspedisi wisuda lainnya bisa disimak dengan meng-klik ini atau ini. Selamat membaca!
Keterangan foto:
1. Atas: action bareng-bareng di atas Pos Kokopan bersama bendera MahaPuspa, berbackround Gunung Penanggungan. Foto oleh Kholik FE.
2. Kiri bawah: di Lembah Kijang, sebelum pisah. Foto oleh saya.
3. Kanan bawah: adegan apa adanya waktu recovery di Pos Pondokan Welirang, satu hari sebelum Puncak Arjuna. Tampak Zaqi dan Hanik lagi bercanda, Kun garuk-garuk punggung, Agus Salim asyik menulis catatan pendakian sambil duduk di atas batu, Wahyu Fani melamun sambil cengar-cengir sendiri, Bakti lagi masak di api unggun dan Kholik FE yang lagi nunggui Bakti masak, menatap dengan tatapan mata kosong (sudah lapar banget kayaknya). Foto itu saya yang ambil. Namun yang sangat disayangkan: justru foto-foto di Puncak Arjuna dengan memakai toga tidak ada. Hilang entah kemana berikut negatifnya. Hiks ... saya saja sempat sedih 7 hari 7 malam ketika pertama tahu arsip-arsip berharga itu hilang. Mungkin di antara teman-teman MahaPuspa masih ada yang menyimpan? Kabari saya ya ...

Rabu, September 26, 2007

MAHAPUSPA: Wisuda-Wisuda (1)













Hingga ke batas langit kami dihantarkan-Nya ...
Bersama sahabat dan alam
Apalagi yang perlu dikhawatirkan?
Kami merasa telah mencapai segalanya!

Keterangan foto:
1. Saya pada ekspedisi Wisuda Raung 15 April 1997. Foto oleh Toto (atas). Peserta tim: Agus BI, Agus Salim, Herie "Teler", Heri "Cepeng", Jumain, Kun, Suyud, Toto, Tri, Yoyok dan saya sendiri. Lihat juga file "MahaPuspa edisi Wisuda Raung" .
2. Foto bawah kiri dari kiri: Herie "Teler", Agus BI, Agus Ahong, Kholik, Anggraini (berjilbab), Davi (bertoga) dan Retno pada Wisuda Segara Wedi Kidul (kawasan Bromo Tengger Semeru) 15 November 1997. Saya yang ambil gambarnya. Anggota lainnya yang tidak ada pada foto: Amin, Bondhan, Heriyanto "Cepeng", Galuh, Icha, Siti Zumaro, Wanti dan Wijaya. Tapi sori ... ada 2 orang teman Wanti namanya lupa, soalnya bukan arek PSTP.
3. Foto bawah kanan Agus Ahong (rambut gondrong bertoga) diapit Heriyanto "Cepeng" dan satunya entah siapa (ini juga bukan PSTP) pada Wisuda Gunung Slamet Jawa Tengah 11 Oktober 1998. Anggota timnya tidak jelas karena kebetulan saya tidak ikut. Sori lagi ...

Jumat, Agustus 24, 2007

MahaPuspa Most Beautiful Pictures (2)







Semeru, termasuk dalam TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Terlalu mengesankan untuk dilupakan. Mana mungkin lupa pada Lembah Bentengan? Sebuah lembah menakjubkan di tengah rute perjalanan antara Bromo - Ranu Pani. Awan berarak terasa begitu dekat di atas kepala dan angin yang membawa debu dari lautan pasir Bromo sesekali menyapa wajah. Kemudian Ranu Pani, sebuah desa yang disebut sebagai "The Gate of Semeru". Desanya masih asri, penduduknya juga ramah. Lalu Ranu Kumbolo, danau indah di tengah hutan belantara antara rute Ranu Pani - Kalimati. Permukaan airnya tenang berkilau saat sunrise atau sunset, dihiasi sederet pinus di sekelilingnya. "The most beautiful place i've ever seen before", begitu kata saya ketika pertama kali melihat Ranu Kumbolo pada akhir tahun 1995. Setelah itu Hutan Jimbaran yang penuh anggrek warna-warni, seterusnya hingga Kalimati , suatu tempat dimana kita bisa melihat edelweiss tumbuh bebas dan rimbun. Berlanjut dengan Hutan Arcapada yang menggairahkan. Hingga pada tujuan terakhir, menuju puncak Mahameru yang curam. Sungguh semua ini seperti hanya ada dalam dongeng, jika tidak mengalaminya sendiri!
... Kapan kita bisa kesana lagi? ...

Keterangan foto (searah jarum jam):
- Di tepi Ranu Kumbolo, waktu Tri, Joko dan Kun sedang ambil air wudhu buat Subuhan (meski sudah kesiangan ...). Ini yang moto saya, pada tanggal 18 Agustus 1996 atau satu hari sesudah insiden longsor di lereng Mahameru.
- Menjelang Hutan Jimbaran dari Ranu Kumbolo. Yang moto juga saya, pada tanggal 31 Desember 1996.
- Foto paling bawah saya dan Mujib di bawah Lembah Bentengan. Yang ambil gambar kalau nggak Agus BI ya Tri (karena pada waktu itu kami cuma berempat), tanggalnya 30 Desember 1995.

Selasa, Agustus 21, 2007

MahaPuspa Most Beautiful Pictures (1)






... bilang "indah" saja tidak cukup!

Benar, jangan hanya dinikmati, tapi juga harus dijaga. Karena bumi dan alam semesta ini diamanatkan-Nya kepada kita. Maka, siapapun kita berhak dan wajib menjaganya. Ketahuilah: untuk menjadi seorang pecinta alam bukan diukur dari seberapa sering dia naik gunung, seberapa jauh dia menelusuri rimba dan gua atau seberapa tinggi dia menaklukkan tebing. Tetapi menjadi pecinta alam ditentukan dari seperti apa dia memperlakukan alam di sekitarnya. Jangan bingung. Contohnya sederhana: menjaga kebersihan sekeliling, seperti selalu membuang sampah pada tempatnya - sekecil apapun - sudah termasuk sebuah sifat kepecintaalaman.
Jadi, sudah siapkah kita untuk menjadi pecinta alam sejati?

Keterangan:
- Foto kanan bawah adalah siluet hutan di Gunung Welirang, saya yang take pada tanggal 20 Mei 1996 setelah Sholat Subuh. Tim yang ikut dalam pendakian tersebut: Agus BI, Kun, Toto, Tri, dan saya sendiri.
- Foto kiri bawah diambil Risa keponakannya Tri menampilkan Gunung Penanggungan dilihat dari Pos Kokopan Welirang pada tanggal 17 Februari 1997, pada siang hari dalam perjalanan turun. Yang ikut dalam pendakian: Agus BI, Herie "Teler", Risa, Retno, Tri, Wijaya dan saya sendiri.
- Foto paling atas adalah Pos Pondokan Welirang yang diliputi kabut di siang hari pada saat recovery menjelang pendakian ke puncak Arjuna. Foto ini saya yang jepret pada hari Jumat 25 oktober 1996 pada saat pendakian wisuda yang pertama, dengan peserta yang cukup banyak. Nantikan file selengkapnya tentang MahaPuspa edisi Wisuda Welirang-Arjuna di blog ini.

Sabtu, Agustus 18, 2007

Jejak-jejak MAHAPUSPA


... menggigil ...
... terharu ...
... tersungkur ...
... di bawah Kebesaran Sang Esa!

" ... Tuhan, jadikan setiap tetes keringatku, setiap langkah kaki lemahku, setiap tarikan nafasku, adalah dzikirku pada-Mu ... "

Keterangan:
- Foto paling atas diambil pas Tahun baru 1996 di Puncak Mahameru. Yang moto Agus BI. Saya teringat, pendakian ini penuh cobaan. Cobaan pertama bermula dari hilangnya carrier Mujib di Terminal Bungurasih, kemudian diterjang badai selama pendakian sampai hampir mati terkena hypothermia, tapi Alhamdulillah masih bisa pulang dalam keadaan hidup ... Rute yang kami ambil adalah lewat Gunung Bromo. Total 7 hari perjalanan start - finish. Rute tersebut merupakan rute terjauh untuk mencapai Puncak Mahameru.
- Anggota tim MahaPuspa edisi "Tahun Baru Semeru": Agus BI, Mujib, Tri dan saya sendiri.
- Foto kiri dan kanan adalah momen peringatan 17 Agustus Tahun 1996 juga di Mahameru. Foto kiri yang ambil saya, kenangan bersama Redis teman SMP yang kebetulan bertemu di puncak. Foto kanan adalah detik-detik dikibarkannya Bendera Merah Putih di puncak tertinggi di Pulau Jawa, diambil oleh Tri. Yang jadi pengerek bendera sebelah kanan adalah teman saya SMA, Bagus "Pukon", yang juga kebetulan bertemu di puncak. Pendakian 17 Agustus ini juga sangat dramatis: sempat terjadi longsor di lereng Mahameru pada saat pendakian menuju puncak. Kejadiannya dini hari, saat sekeliling masih gelap-gulita. Salah seorang anggota tim kami, Rahmad terkena longsoran sampai kepalanya bocor karena tidak sempat menghindar. Terus kenalan kami dari Malang, Mas Mamat malah patah kaki dan harus ditandu ke Ranu Pani (pos pertama ke Semeru). Untung tidak ada nyawa yang melayang. Alhasil, upacara pun berlangsung dalam keadaan penuh duka. Bagaimanapun mengingat buasnya alam Semeru, kejadian seperti itu tidak meminta korban jiwa adalah sebuah karunia sendiri bagi kami semua. Allah sungguh Maha Pengasih ...
- Anggota tim MahaPuspa edisi "17 Agustus Semeru": Kun, Tri, Joko, Rahmad dan saya sendiri.


Jumat, Juli 20, 2007

MAHAPUSPA vs. AFYT

Salah satu foto Mahapuspa dan AFYT di depan gedung kuliah pada hari Senin, 5 Agustus 1995 jam 09.00 am. AFYT adalah "gerombolan tandingan" MahaPuspa di PSTP Unair (khususnya di angkatan '93). Bedanya, AFYT hanya beranggotakan empat cewek (yang centil ...) yang namanya menjadi akronim dari kata AFYT itu sendiri: Anik, Anna MoeFida, DennY dan Anna Budhi UTami, sedangkan MahaPuspa kan anggotanya lebih banyak dan dari beberapa angkatan. Tapi AFYT sudah eksis ketika kami masih menggunakan nama "ARMESS" atau Arek-arek Mess (karena kami biasanya ngumpul alias ber-mess-ria di rumah Kun di Jl. Ngagel Dalam Selatan), atau sebelum nama MahaPuspa "ditemukan". Mereka, gerombolan AFYT itu kini sudah pada jadi ibu-ibu semua. Apa masih pada centil ya? He ... he ... Sori, sori ...
Pada foto itu kami berpose dengan bendera MahaPuspa yang baru jadi. Bendera itu yang desain gambarnya saya dibantu Kun dan Tri, yang njahit Toto (dan yang nyablon tentu saja tukang sablon). Anna Moefida nyumbang ngasih renda-renda di tepiannya.
Filosofi dari gambar dan warna bendera itu sederhana saja. Gambar gunung dan buku yang terbuka (di bawah gunung) melambangkan bahwa kami "menggilai" keduanya: ya gunung (baca: alam) juga buku (baca: ilmu). Kemudian warna dasar kuning melukiskan semangat, sementara warna tulisan hitam adalah harapan agar persahabatan MahaPuspa akan abadi. Tetapi yang tampak "kurang pas" adalah tulisan PERPUSTAKAAN-nya, seperti "terputus" (perhatikan bendera). Belakangan, antara kata PERPUSTA dan KAAN saya tambahi dengan lafal Allah dalam huruf Arab (4JJI) yang saya bentuk seperti kobaran api tepat di gambar puncak gunung. Melambangkan bahwa Allah-lah tujuan terakhir. Wah, kalau yang ini jeru banget omongannya ...
Yang nampang di foto (dari kiri ke kanan): Hanik, Denny, Toto, Kun, saya, Tri dan Anna Moefida. Yang take fotonya saya lupa. Kalau bukan Anik ya Anna Budhi.

Selasa, Juli 10, 2007

"A Flight to Freedom"

I fly to You,
like a little bird that flies to the sky
find a better nest
for some rest ...
of how difficult life is

I've traveled much
through the
burning sun
But I never get anything
unless my flight itself
that bring a lot of shine,

From
You ...

(Salah satu puisi saya ini terangkum dalam "Antologi Pertama" kumpulan beberapa karya teman-teman Komunitas Ukel, sebuah wadah penulis-penulis muda - dan amatiran - yang ada di Ponorogo. Puisi ini saya tulis bulan Februari 2004, untuk mengenang saat-saat bersama MahaPuspa. Sedangkan foto di atas diambil pada hari Senin tanggal 11 September 1995 di Puncak Gunung Arjuna Jawa Timur yang penuh angin pada waktu sunrise berbackground awan kabut stratus di bawah saya. Pendakian itu bersama dua teman: Kun dan Hendro. Pendakian itu didedikasikan untuk Hendro yang baru wisuda Teknik Perkapalan ITS beberapa hari sebelumnya. Rentang waktu antara puisi dan foto yang menjadi ilustrasinya itu memang jauh, hampir 10 tahun. Tapi tetap relevan kan?)

Selasa, Juli 03, 2007

MahaPuspa edisi Wisuda "RAUNG" 1997


Inilah momen terhebat! Setelah diwisuda diploma siang harinya, yang kebetulan (benar-benar kebetulan!) saya dipilih menjadi salah satu wisudawan terbaik di FISIP Unair, malamnya kami cabut ke Gunung Raung Bondowoso Jawa Timur. Anggota MahaPuspa yang tergabung dalam Tim Wisuda Raung 1997 adalah: (sesuai yang difoto dari kiri ke kanan) Tri, saya sendiri, Kun memakai toga dan Toto. Sementara para 'penyelundupnya' adalah Yoyok (Untag) yang berpose salam metal dan BI (Unitomo) di pojok kiri bawah lagi cengar-cengir (wajahnya tak seberapa kelihatan). Anggota lainnya yang tidak ada pada foto tersebut: Herie Teler, Heri Cepeng, Agus Salim, Suyud dan Jumain (kedua orang yang disebut terakhir ini juga bukan mahasiswa PSTP, seperti Yoyok dan Agus BI, tapi ikut nimbrung jadi peserta Tim Wisuda Raung 1997). Kami berpose tepat di bibir kawah, dengan bendera kebesaran kami.
Raung, gunung yang menakjubkan. Dengan hutan yang masih perawan, jurang-jurang luar biasa di sekitar puncak dan kawah yang mempesona (foto insert). Sungguh Maha Agung yang menciptakannya ...

(Foto diambil tanggal 15 April 1997 di Puncak Gunung Raung Jawa Timur)

Jumat, Juni 29, 2007

This is MAHAPUSPA!


Beberapa kenangan terindah dengan teman-teman kuliah yang tergabung dengan kelompok pecinta alam "MAHAPUSPA" (Mahasiswa Perpustakaan Pecinta Alam), yang didirikan oleh beberapa mahasiswa dari PSTP FISIP UNAIR Surabaya yang maniak banget rimba-gunung, khususnya kami, angkatan '93 yang didedengkoti oleh saya sendiri, Tri, Kun, Toto, Joko, Kukuh, Zaqi "Oom Jek", Wahyu Fani, Hanik, Hari Saptono, Bakti, Endro dibantu teman-teman dari angkatan lain Kholik, Supri, Agus Ahong, Herie "Teler", Heri "Cepeng", Bondhan, Agus Salim, Yudi "Capello", juga mahasiswa dari fakultas lain seperti Muji Hadex (Sosiologi), Redis (Ekonomi). Bahkan dari universitas lain juga ada, yaitu Agus BI (Unitomo), Rahmad (IKIP), Yoyok, Mujib (Untag), Amin, Jumain dan lain-lain. Selain itu ada juga cewek-ceweknya (atau biasa disebut "The Girls"): Galuh, Icha, Wijaya, Yenni, Davi, Retno, Anggraini, Lina, Wanti, Fitri, Siti Zumaro dan Tussi.
MahaPuspa secara de facto berdiri pada 1 Januari 1994 pada pendakian yang pertama di Gunung Welirang Jawa Timur - sekaligus pendakian yang akan selalu mengingatkan kami pada Almarhum Mas'ud (foto insert keempat dari kiri), salah seorang teman yang ikut dalam pendakian tersebut yang meninggal akibat sakit pada tahun 1995. Nama MahaPuspa itu tidak sengaja saya "temukan" sewaktu lagi nonton film lawas "Puspa Indah di Taman Hati"-nya Rano Karno. Nah, karena saat itu saya dan teman-teman lagi butuh nama untuk grup pecinta alam yang baru kami deklarasikan kata "Puspa" dari judul film itu saya comot karena kok ya bisa dipas-paskan menjadi "Perpustakaan Pecinta Alam". Tinggal nambahi kata "Maha" untuk mahasiswa jadilah: MahaPuspa.
Sebagai informasi, MahaPuspa sempat bertahan sampai beberapa angkatan sampai kemudian tamat dengan sendirinya karena tidak ada penerusnya. Kami, MahaPuspa terus terang hanya memfokuskan diri pada rimba-gunung, semata-mata dengan maksud bagaimana agar kita benar-benar mencintai, menikmati, mensyukuri dan turut berusaha - sekecil apapun - untuk menjaga serta melestarikan alam semesta yang diamanahkan Allah pada kita. Sepanjang kiprah MahaPuspa, gunung se Jawa-Bali sudah pernah disinggahi. Hanya se Jawa-Bali, tak pernah lebih. Malah saya sendiri Jawa Timur saja belum nutug seluruhnya. Maklum semua serba swadana alias tak ada sponsor. Sekarang, kami sudah tua-tua. Hanya kenangan yang tersisa. Seperti pada foto-foto usang itu ...

(Foto di atas diambil hari Senin tanggal 21 Mei 1996 di Lembah Kijang yang indah di tengah perjalanan menuju puncak Gunung Arjuna Jawa Timur. Sayang, pada saat kami ke sana lagi beberapa waktu kemudian, mata air itu sudah lenyap ...)